mengelola emosi

Oleh

Prof Dr Roy Sembel/Sandra Sembel

Emosi Positif

Emosi positif pasti akan menghasilkan karya yang positif. Mungkin sekali Anda setuju dengan pernyataan ini, tapi kenyataanya sebenarnya tidak selalu demikian. Emosi positif yang tidak dikelola dengan baik, bisa saja menghasilkan sesuatu yang akhirnya membawa petaka.

Coba saja kita perhatikan apa yang terjadi dengan Hitler dengan ambisi dan semangatnya yang kuat untuk diakui banyak orang, yang akhirnya malah membuat banyak orang menderita. Emosi ini juga akhirnya membuat dirinya sendiri menderita. Jadi, emosi positif pun seharusnya dikelola dengan baik agar hasilnya juga bisa memberi manfaat, tidak saja untuk si empunya emosi, tetapi juga untuk banyak orang. Apa saja emosi positif yang bisa membawa sukses bagi si empunya emosi?

Antusiasme

Tak ada hal yang tidak mungkin diraih oleh mereka yang memiliki antusiasme tinggi. Begitu kata pepatah. Sepertinya pepatah ini ada benarnya. Orang yang memiliki antusiasme tinggi akan memancarkan antusiasme tersebut kepada orang-orang di sekitarnya. Akibatnya, orang-orang sekitarnya juga akan merasakan energi emosi yang tinggi ini.

Mereka yang tadinya tidak percaya, menjadi percaya, yang tidak mau menjadi mau, dan yang tidak berminat menjadi berminat, dan yang tidak tertarik menjadi tertarik.

Selain untuk orang lain, energi ini juga mempunyai kekuatan luar biasa untuk membantu mengatasi berbagai hambatan dan masalah yang mengadang. Antusiasme yang tinggi akan mendorong orang bertahan terhadap berbagai kesulitan sampai akhirnya kesulitan tersebut berlalu, atau sampai akhirnya jalan keluar ditemukan.

Carlson Chester yang memiliki antusiasme tinggi dalam bidang elektrofotografi banyak mengalami berbagai kendala dan tantangan sebelum akhirnya produk ciptaannya (mesin fotokopi), laku keras dan melegenda serta memberikannya banyak keuntungan. Berkali-kali produk ciptaannya ditolak karena memang kualitasnya belum sempurna.

Antusiasme tinggi tidak membuatnya putus asa, sebaliknya, antusiasme yang tinggi mendorong Chester menyempurnakan mesin fotokopi penemuannya tersebut, sehingga ia berhasil menularkan antusiasmenya tersebut kepada sekelompok insinyur di sebuah lembaga penelitian untuk membantunya memperbaiki kualitas mesin fotokopi tersebut.

Akhirnya, mesin ini pun berhasil mencapai kualitas yang memiliki nilai guna dan nilai jual yang tinggi. Penggunaan mesin ini tidak hanya memberikan manfaat kepuasan tetapi juga manfaat finansial bagi Carlson Chester sang pencipta, dan orang-orang yang telah membantunya. Semua ini dilandasi oleh antusiasme yang tinggi.

Optimisme

Biasanya, orang yang memiliki antusiasme tinggi juga memiliki optimisme yang tinggi, yaitu emosi yang membantu orang untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif. Orang yang memiliki optimisme tinggi melihat masalah bukan sebagai jalan buntu, melainkan sebagai tantangan untuk menemukan solusi. Mereka melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk memulai kembali dengan cara baru dan hasil yang lebih baik.

Mereka melihat penolakan sebagai dorongan untuk memperbaiki diri dan hasil karya mereka, sehingga segala sesuatu yang mereka alami tidak membuat mereka stres, tetapi malah membuat mereka menjadi lebih bersemangat untuk menciptakan pembaharuan. Orang yang memiliki optimisme tinggi biasanya juga adalah orang yang berpandangan luas dan berpandangan ke depan. Kegagalan hari ini tidak dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai pelajaran berharga dan batu loncatan untuk menapak ke masa depan.

Presiden JF Kennedy ketika mendeklarasikan komitmen untuk membuat orang melangkah di bulan, memiliki optimisme yang tinggi. Ia berpandangan ke depan bahwa suatu waktu pasti manusia akan mampu menapakkan kakinya di bulan. Untuk itu, ia memfasilitasi dan mendukung terlaksananya berbagai penelitian penting yang berujung pada keberhasilan mendaratkan manusia ke bulan. Berbagai penelitian ini memang tidak langsung mempersembahkan keberhasilan. Hasil dari berbagai penelitan tersebut saling memberikan sumbangan positif bagi penelitian berikutnya, sampai akhirnya berujung pada keberhasilan membawa pesawat Apollo ke bulan, suatu terobosan yang luar biasa bagi umat manusia.

”Passion”

Sulit mencarikan padanan kata yang tepat bagi kata passion ini. Passion adalah gabungan dari beberapa emosi: antusiasme, optimisme, ketertarikan dan kecintaan pada sesuatu. Gabungan dari ketiga hal ini memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Dengan passion (kegairahan), tak ada suatu masalah pun yang tak dapat dipecahkan, tak ada suatu cita-cita pun yang tidak dapat diwujudkan.

Emosi yang satu ini pasti dimiliki oleh mereka yang sudah banyak menyumbangkan jasa bagi umat manusia. Misalnya saja Einstein, Walt Disney, Ibu Teresa, Bill Gates, Oprah Winfrey, dan masih banyak tokoh-tokoh dunia lainnya. Mereka semua memiliki kegairahan yang luar biasa pada bidang yang mereka tekuni, sehingga mereka berhasil membukukan sejarah dengan mahakarya mereka masing-masing, baik untuk kemanusiaan, ilmu pengetahuan, maupun dunia bisnis, dunia hiburan dan teknologi.

Mereka tidak pernah puas untuk mempersembahkan satu mahakarya saja. Mereka terus-menerus terpacu untuk selalu menghasilkan yang terbaik yang bisa mereka lakukan untuk orang-orang yang mereka sayangi, untuk orang-orang di sekitar mereka, dan untuk dunia. Jadi, carilah bidang pekerjaan di mana Anda memiliki passion untuk mengerjakannya. Tanpa passion sulit untuk mempersembahkan sesuatu yang memberikan kepuasan untuk diri sendiri dan juga orang lain.

Mengelola Emosi Negatif

Selain emosi positif, emosi negatif pun perlu dikelola dengan baik, agar energi yang dihasilkan bisa mengarahkan kita untuk menghasilkan sesuatu yang positif. Simak bagaimana mengelola beberapa emosi negatif berikut.

Amarah

Tahukah Anda bagaimana caranya ”memancing” kepiting? Biasanya kepiting dipancing dengan membangkitkan rasa marahnya dengan mengganggu sang kepiting dengan sepotong kayu. Ketika sang kepiting marah, ia akan menjepit kayu tersebut. Pada saat inilah sang kepiting bisa segera diangkat ke atas, bahkan seringkali langsung dimasukkan ke panci mendidih untuk dimasak.

Ilustrasi ini memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa amarah yang tidak dikelola dengan baik akan merugikan diri sendiri. Tetapi, sebaliknya, amarah yang dikelola dengan baik akan mendorong kita untuk melakukan perubahan.

Sebagai contoh, kita bisa perhatikan apa yang telah diteladankan oleh Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr, dan Ibu Kartini. Mereka ”marah” pada keadaan yang mendiskreditkan suatu suku dan gender. Kemarahan mereka ini mereka salurkan kepada kegiatan yang mendorong terjadinya perubahan.

Mahatma Gandhi mempelopori gerakan antikekerasan untuk memprotes perbedaan perlakuan terhadap warga India, Martin Luther King Jr mempelopori pembaharuan demi terjadinya persamaan hak antara warga kulit putih dan kulit berwarna melalui long march dan pidato-pidatonya yang membuat orang tersadar bahwa setiap orang, sebagai bagian dari umat manusia, memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Demikian pula dengan Ibu Kartini yang ”marah” akan perlakuan yang diskriminatif terhadap kaum wanita yang pada waktu itu tidak diberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan formal. Ia lalu mengalirkan energi dari ”amarahnya” untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak, remaja puteri, dan wanita, agar mereka juga bisa mengecap pendidikan.

Nah, jika Anda memiliki rasa ”marah” terhadap suatu ketidakadilan atau suatu kondisi yang tidak menguntungkan, jangan hanya mengomel dan bersikap destruktif.

Takut

Emosi yang satu ini juga sangat manusiawi. Semua orang pasti pernah memilikinya. Siapa sih yang tidak takut sakit, tidak takut gagal, tidak takut menderita? Tetapi, yang perlu diingat: jangan sampai rasa takut ini melemahkan semangat kita untuk tetap berusaha, apalagi sampai membuat kita berhenti berusaha.

Sebaliknya, gunakan energi yang timbul dari rasa takut ini dengan berusaha mencari jalan keluarnya, atau mencoba cara lain agar kita atau orang lain tidak perlu mengulang kembali pengalaman yang sama yang membangkitkan rasa takut tersebut. Tentunya, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengidentifikasikan sumber rasa takut tersebut, setelah itu barulah kita bisa menyusun strategi untuk mengelola rasa takut ini.

Jika kita takut sakit, kita harus mempelajari apa saja yang bisa menimbulkan rasa sakit tersebut. Kita bisa menghindari sumber rasa sakit tersebut (misalnya: berhenti merokok, berhenti mengonsumsi obat-obat terlarang), atau kita bisa mencoba mencari cara untuk menghilangkan sumber rasa sakit (misalnya: dengan menghadapi rasa sakit itu, sehingga kita bisa mengenal akibat yang ditimbulkannya dengan baik).

Jika kita takut gagal, kita bisa menyusun rencana strategis sebelum memulai sesuatu, sehingga kita bisa merasa lebih yakin untuk sukses. Kita juga bisa meminta bantuan dan dukungan orang-orang yang tepat yang dapat membantu kita meraih sukses. Misalnya, seorang atlet bisa meminta bantuan pelatih dan sponsor untuk membantunya meraih sukses dalam pertandingan. Kesuksesan akan lebih mudah diraih dengan bantuan banyak orang daripada jika harus melakukannya sendiri.

Semua emosi yang kita miliki memancarkan energi yang kuat untuk membawa kita kepada kebaikan asalkan saja kita bisa mengelolanya dengan baik. Paling tidak kita bisa mulai mengelola empat emosi yang baru saja kita bahas.

Iklan

Tentang unnanoche

I was born yesterday..and I feel as gulible today
Pos ini dipublikasikan di kesehatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s