Keberhasilan Apa Yang di Capai Oleh Sistim Dajjal? bag 1

Keberhasilan Apa saja yg pernah dicapai oleh seluruh Sistim Idiologi2 Dajjal (Libralisme,Komunisme & Nasionalisme) dibanding dgn Sistim-Islam??

Inilah drama “Perdamaian”-1
Napas Jibril, gelora hati al-Mustafa-2
Sinar yang memecahkan kegelapan
Terompet untuk menenteramkan huru-hara
Nur bagi ‘Siratal Mustaqim’
Pembangkit Timur dan Barat
Irama kalbu, senandung hidup setiap Muslim

Hendak kupentaskan di panggung kehidupan
Di padang kersang di tanah lempung ini
Di tengah-tengah pekik-sorai kehidupan
Di seantero permukaan bumi ini
Di wadi-wadi kehidupan Nasional
Di dalam pesta di belakang Tirai Besi
Di dalam Majlis di Benteng Dunia Merdeka

Persaksikanlah dan lihat nanti …
Satu abad yang lain, abad yang belum bernama
Sifat kehidupan penaka famili-3
Tiada tempat dengki dan tamak
Tasiknya rimbun ngarainya rindang
Tiada insan mati tak punya
Satu “Kehidupan seperti organisme”-4

Ikutilah Kekasih, Mujahidun …
Siapkan diri bagaikan Mustafa
Di semua babak atau adegan
Sebagai Penyanyi, Penari, Pelaku,dan Sutradara
Dan … bila ‘ku gagal, jatuh terlintang
Ataupun hilang tak tentu rimba
Majulah ke depan, lanjutkan ‘Drama’ ini
———

1.Perdamaian ialah Islam.
2.Al-Mustafa adalah Nabi Muhammad
3.Innamal mu’minuuna ikhwatun… (Surat al Hujarat ayat 10)
4.Al-muslimuna ka rajulin wahid.. al hadis rawi Muslim dari Nu’man bin Basyir.

KATA PENGANTAR

Risalah ini adalah ringkasan dari sebuah buku yang telah selesai ditulis dalam tahun 1958. Latar belakangnya berkisar di sekitar perjuangan umat Islam di Indonesia dalam usahanya memperjuangkan terwudnya satu kehidupan yang berdasarkan Islam, di-persada Indonesia. Teristimewa mengenai kegagalan mereka dalam pemilihan umum ditahun 1955 di mana berdasarkan catatan penulis sejarah, penduduk Indonesia 90% terdiridari orang-orang Islam. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa suara-suara yang dapat dikumpulkan oleh partai-partai Islam dalam keseluruhannya hanya mencapai jumlah 40% saja. Berarti satu kekalahan yang menegakkan bulu roma terhadap perjuangan partai-partai Islam sebagai umat, yang sudah barang tentu menjadi satu masalah yang sangat unik bagi setiap Muslim yang sadar akan keyakinannya, yaitu ideologi Islam.Keadaan yang demikian agak serba ganjil kelihatannya. Serba ganjil yang mengandung paradoksal. Setiap orang Islam yakin dan percaya kepada Allah, Malaikat-Nya, Rasul-Nya, Kitab-Nya (al-Quran), dsb. Dan partai-partai Islam di Indonesia dalam perjuangannya pun membawa semboyan “Terlaksananya hukum-hukum Islam dalam diri orang seorang, masyarakat, dan negara yang berdasarkan Quran dan Sunnah Rasul”.Malahan ada yang lebih unik lagi yaitu menambahkan semboyan “Bermazhab,berdasarkan ijmak dan qias.” Secara pokok berarti bahwa dalam pertarungan ideologi diIndonesia partai-partai Islam menawarkan satu pilihan yang sesuai kepada rakyat dan masyarakat Indonesia, yang 90% jumlahnya yakin dan percaya kepada apa yang ditawarkan oleh partai-partai Islam itu. Dan menurut perhitungan yang normal maka pastilah partai-partai Islam akan mencapai kemenangan yang mutlak, baik untuk pemilihan anggota-anggota DPR maupun untuk pemilihan anggota-anggota Konstituante.Tetapi kenyataan sebaliknya, partai-partai Islam dalam keseluruhannya memperoleh suara hanya 40% saja. Satu kenyataan yang menggoncangkan pikiran dan perasaan setiap muslim, yang merasa bertanggung jawab terhadap “al-Islamu ya’lu wala yu’la”.

Timbullah kesangsian kalau-kalau ada ketidak beresan di dalam perjuangan, baik didalam tubuh partai-partai Islam maupun di dalam tubuh umat Islam sendiri. Kesangsian yang mendorong untuk berpikir dan meninjau kembali dalam keseluruhan dan setiap bidang yang menyangkut segi-segi dan syarat-syarat perjuangan umat Islam. Mengapa partai-partai Islam dalam keseluruhannya sebagai umat mengalami kekalahan yang begitu mengejutkan. Dimanakah letaknya sebab-sebab kesalahan itu. Sampai di manakah tanggapan mereka terhadap tujuan Islam sebenarnya sebagai ideologi,khittah mencapainya dan juga rangkaian kenyataan yang dihadapinya. Dapatkah menemui satu jawaban yang memuaskan terhadap persoalan-persoalan itu, sehingga jika semua itu sudah jelas diketahui maka, dengan usaha yang sungguh-sungguh, dalam jangka waktu tertentu Insya Allah kekalahan itu dapat segera ditukar menjadi kemenangan yang gilang-gemilang. Dan bagaimanakah caranya. Inilah yang akan menjadi motif dari risalah ini. Ukuran yang akan dipakai dalam pemikiran dan peninjauan ini ialah Quran dan Sunnah Rasul; teristimewa sejarah perjuangan Rasul sendiri.Niat penulis semula, berhubung oleh sesuatu pertimbangan, buku yang dimaksud baru akan dikeluarkan nanti dalam tahun 1962. Akan tetapi, oleh desakan kawan-kawan dan memperhatikan keadaan perjuangan umat Islam umumnya, khususnya Indonesia,yang menurut penglihatan penulis, keadaannya sangat suram, dan sekadar untuk memberi sumbangsih kalau-kalau ada manfaatnya, maka pertimbangan semula itu dikesampingkan. Dan untuk lebih memenuhi kebutuhan praktis intern umat Islam sendiri maka isinya pun kami ringkaskan sedemikian rupa seperti yang terlihat sekarang ini.Inilah setetes tinta dari seorang pemuda yang masih hijau dalam segala hal, akan tetapimerasa penuh bertanggung jawab atas kebenaran dan ketinggian apa yang menjadi keyakinannya.

——-
1.Al-Hadits, Jami’u Shaghir I: 417, dirawi oleh Darulqutni dan Baihaqi.

Risalah ini kami beri nama “MENUJU MADINATUL MUNAWWARAH”. Kandungannya,bagian ke-1 “Mukadimah” melukiskan, apa dan siapa sebenarnya manusia itu dalam hubungan fungsional dengan alam sekitarnya, bentuk kenyataan sosial dalam prosesnya,faktor-faktor yang menyetir kenyataan sosial ini sebagai susur-galur dari kegiatan-kegiatan manusia, dan kedudukan serta pendirian umat Islam sekarang ini dalam arusyang demikian. Bagian ke-2 “Muhammad Membawa Revolusi dan Perdamaian” menjelaskan arus sejarah proses sosial di mana Nasionalisme, Organisme dan Liberalisme adalah prinsip-prinsip yang merupakan political philosophy-nya, yang merupakan back- ground dari kekacauan-kekacauan kehidupan, dan revolusi “Perdamaian”-1)
adalah satu-satunya yang sesuai dengan fitrah manusia untuk dijadikan konsepsi dalam mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia dan sosialnya. Bagian ke-3 “Umat Islam Sebagai Pewaris Amanat Muhammad” menggambarkan perkembangan sejarah “sosialIslam”, faktor-faktor yang memperkuat dan yang melemahkannya serta sebab-sebab yang meruntuhkannya. Bagian ke-4 “Penutup” memuat kesimpulan-kesimpulan dan pandangan ke depan serta cara memperbaikinya untuk mengembalikan kejayaan umat Islam. Dengan demikian penulis berpengharapan semoga umat Islam umumnya, yang di Indonesia khususnya, dapat lekas sampai kepada keadaan di mana:

“Berdirilah abad yang lain, abad belum bernama
Cinta napas Jibril, cinta hati Al-Mustafa
Cinta utusan Ilahi, cinta kalam Tuhan
Oleh kemilau cinta merak menyala tanah lempung ini
Cinta anggur hampir matang, cinta piala bagi sang budiman
Cinta hamba beribadat, cinta panglima pasukan
Cinta Ibnu Sabil tiada terkira tempatnya singgah
Cinta jari pemetik lagu kehidupan
Kau masjid Cardova menjelma oleh sinar cinta
Berpantang mati dalam seluruh ujudmu, ajaib bagi dulu dan kini.”-2)

,,,,, Amien ya Rabbal ‘alamin!…….

1.Ialah Islam.
2.Dr. Mohd. Iqbal, Asrar-I Khudhi, Komentar dan terj. Bahrum Rangkuti dan Arief Husein BA. LLB. (Jakarta:Penerbit Pustaka Islam), hal. 23.

————–
Kata Pengantar ………………………………………………………………………
1.Mukadimah(Manusia dan Kenyataan Sosial dalam Persoalannya)
2.Nabi Muhammad Membawa Revolusi dan Perdamaian
3.Umat Islam Sebagai Pewaris Amanat Muhammad
4.P e n u t u p …………………………………………………………………
Buku-buku Bacaan ………………………………………………………………
————–

BAGIAN 1.
MUKADIMAH [MANUSIA DAN KENYATAAN SOSIALDALAM PERSOALANNYA]

“Timbulnya bencana di darat dan di laut adalah hasil karya budi daya manusia,kiranya mereka dapat merasai sebagian dari apa yang telah mereka lakukan,mudah-mudahan semuanya menjadi sadar kembali.”-1)
“Manusia adalah istimewa dalam segala hal yang dapat dilakukannya…. Hanya manusialah yang dapat bercakap-cakap, membaca, menulis, menyembah yang gaib,membikin pencakar langit, dan meramalkan posisi bintang-bintang yang ribuan tahun jaraknya…. Di antara segala makhluk hanya manusialah yang mempunyai kemampuan belajar berbicara, menyelesaikan pelbagai problem dengan ilmu-ilmu hitung yang lebih tinggi, membikin pesawat udara, menjadi perdana menteri.-2)

1.QS. ar-Rum ayat 41.
2.WF. Ogburn, MF. Nimkoff, A Handbook of Sociology(rev. ed. 2; London, 1950), hal. 1-2.

“Manusia adalah kesatuan ‘organis …’ sebagai halnya sebuah mesin yang diselenggarakan oleh pelbagai kegiatan, di mana sistem urat saraf dan alat-alat kelamin dapat dinyatakan seperti para ahli mesin yang menyetir seluruh kegiatan dari mesin-mesin – menyetop, memulainya, menetapkan kegiatan yang diperlukan, dan pada tingkatan apa seharusnya ia bekerja …. Otak adalah sebagian dari fungsi urat saraf yang tertinggi. Di sinilah, di dalam permukaan yang paling atas, proses urat saraf membangkitkan untuk belajar, kenangan, dan cita-cita; juga di sinilah pangkal untuk emosi .… – kontrol dari lain-lain organ dengan cara demikian rupa sehingga terjamin kerja sama yang harmonis dan pemaduan semua organ dan kegiatan ke dalam kesatuan keseluruhan, yaitu organisme.”-1)
“Manusia ialah makhluk yang mempunyai kecenderungan hawa nafsu terhadapwanita, anak, kekayaan berupa emas dan perak, kuda yang bagus, binatang-binatang dantumbuh-tumbuhan, untuk hiasan di dunia ….”-2) “Kehidupan manusia sebagai kegiatan adalah bola permainan”-3) dari “empat faktor pokok dalam kehidupan sosial manusia.Semuanya memainkan peranan penting di dalam pengalaman hidup manusia ….”-4).
Inilah latar belakang bahwa jika semata-mata menurutkan faktor kehidupannya saja “manusia dengan kegiatannya akan menjurus ke arah bencana dan pertumpahan darah dalam kehidupannya di permukaan bumi.”-5)
Sehingga lembaran sejarah penuh tertulis dengan dokumen-dokumen penyerangan, pembunuhan, perkosaan, perampasan, perbudakan,penipuan, dan sebagainya oleh manusia terhadap manusia. Dari zaman dahulu dan juga sekarang ini yang disebut Zaman Peradaban. Inilah kenyataan sosial sebagai problem manusia, yang menurut Tagore,-6)
“… memberikan berbagai soal kepada kita serta menuntut penyelesaian dari kita, dan bila semua ini tiada dapat kita selesaikan maka hukumannya adalah kematian atau kemunduran.”Setiap manusia dewasa ini dihadapkan kepada kenyataan sosial dalam bentuk sosial-piramida. Yaitu satu gambaran keadaan di mana di atas pundak si tidak punya (buruh)duduklah si punya, dan di atas si punya duduklah golongan yang berkuasa, dan di atas segala-galanya duduklah seorang manusia yang maha kuasa – suatu gambaran exploitation of man by human beings. Keadaan yang demikian berlaku di seantero permukaan bumi ini, semenjak zaman sejarah sampai sekarang ini, di dalam Benteng Dunia Merdeka, di belakang Tirai Besi, dan di setiap Kehidupan Nasional. Di mana setiap manusia di abad ke-20 ini dengan harap-harap cemas mengidam-idamkan perbaikan dan penyelesaian.Sekarang ini dunia sedang dipertarungkan antara dua raksasa, Timur dan Barat.Dengan tanggapan (prinsip) ‘Dari tiap-tiap orang menurut fungsinya dan untuk semuaorang menurut kebutuhannya’. Blok Timur di bawah pimpinan Moskow, dengan organisasi raksasanya, menawarkan satu cara penyelesaian problem ‘kenyataan sosial’ ini kepada dunia seumumnya. Pendiriannya ke depan sangat tergantung kepada pandangannya yang sangat pincang terhadap masa lampau. Dan di atas dasar dialektis diletakkanlah ajaran‘perjuangan kelas’, yang dengan melalui diktator proletariat mereka impikanlah bayangan ‘masyarakat tidak berkelas’. Di atas dasar itulah mereka bekerja, katanya,‘hendak menyelesaikan problem kenyataan sosial ini, menuju ke masyarakat tidak berkelas’. Tetapi kenyataan membuktikan, kian menambah problem, mengacau-balaukan…..

3.Elbert Tokay, Ph.D., Human Body and How It Work , (New York: Permabooks 14 West 49 Street), hal. 8-9.
4.QS. Ali Imran ayat 14.
5.QS. Muhammad ayat 36.
6.Ogburn,Op. Cit., hal. 8.
5.QS. al-Baqarah ayat 30-38.
6.Rabindranath Tagore, Nasionalisme(cet. ke-2; Jakarta: Balai Pustaka, 1950), hal. 19.

setiap kehidupan dengan jalan mengadu-domba yang satu terhadap yang lain, (devide et impera) – melakukan penindasan.Di lain pihak berdirilah Blok Barat. Dengan tanggapan (prinsip) ‘Setiap orang dilahirkan menurut hak-hak tertentu, yang harus mendapat perlindungan ( free fight) dalam mencapai keberesannya sendiri-sendiri, dan masyarakat akan beres dengan sendirinya,’ mereka pun dengan gigih mempertahankan dan menawarkan satu cara penyelesaian tersendiri terhadap problem ‘kenyataan sosial’ ini. Cara kerjanya sangat tergantung kepada pandangannya yang sangat pincang terhadap masa lampau, yang menentukan pendiriannya ke masa depan. Alat yang mereka pakai pun tidak kurang pularaksasanya. Dan kenyataannya pun, melalui ‘balance of power ’- masih berakar dalam‘devide et impera,’ menyeret yang satu dalam imbangannya menarik yang lain, merekabukannya menyelesaikan soal, malah juga kian menambah problem, melanjutkan penindasan oleh manusia terhadap manusia.Rasa tidak puas terhadap kedua cara penyelesaian tersebut – penindasan, yang berbeda landasan dan caranya, timbullah reaksi di dalam keduanya, yang saling memecah menjurus ke dalam satu jurusan – yang masih belum putus sama sekali hubungannya dengan pandangan pertama, menawarkan cara penyelesaian ketiga. Mereka belum mempunyai tanah tempat berpijak. Dan oleh karena hahekatnya adalah persatuan dari dua keping yang berbeda, maka dari siang-siang dapat kita ramalkan bahwa mereka ini pun bukannya akan menyelesaikan persoalan, malah akan lebih menambah problem lagi, pasti bila ada kesempatan juga akan mempraktekkan penindasan “untuk menjamin kelanjutan hubungan produksi yang tetap semata-mata oleh karena jika tidak demikian,maka tidak dapat dilanjutkan dalam pencaharian nafkah.”-1)
Di tengah-tengah bayangan pertarungan dari sorotan dua surya internasionalisme itu membadarlah purnama nasionalisme. Yaitu suatu nada sebagai reflek dari kumpulan emosi dan sentimen tanpa ukuran menentu, yang diikat oleh sejarah senasib dan seperuntungan, melanjutkan kebiasaan (kepribadian) turun-temurun. Dengan prinsip itu mereka menawarkan penyelesaian problem ‘kenyataan sosial’ secara lokal dalam rangkaian internasionalisme tersendiri. Dan cara kerjanya pun tidak dapat dilepaskandari pengalamannya di masa lampau, yang sangat ditentukan oleh pasang surut dari pengaruh-pengaruh kedua raksasa yang sedang bertarung itu. Sehingga kenyataannya punsangat meruwetkan, kian lebih lagi menambah problem yang sudah bertumpuk-tumpuk,penindasan oleh manusia terhadap manusia.Setiap manusia di mana pun ia dilahirkan dan hidup sekarang ini, oleh fitrahnya terbelenggu dalam ‘kenyataan sosial’ dan rantai kebiasaan, yang terus-menerus membawa penindasan oleh manusia terhadap manusia. Dalam keadaan yang demikianlah setiap manusia di seantero permukaan bumi ini sekarang ini dihadapkan dengan tiga dilema tadi – dua yang pertama merupakan problem internasional dan yang satu lagi adalah problem nasional. Tiga dilema yang dipandang dari sudut politik, merupakan sistem-sistem tentang pembagian nilai-nilai, moral dan material dalam kehidupan bermasyarakat, yang satu terhadap yang lain mempunyai pangkal yang bertolak-belakang. Tetapi dalam praktis, kenyataan membuktikan, ke semuanya bersamaan, yaitu sama-sama melakukan praktek kehidupan dalam bentuk sosial-piramida, penindasan oleh manusia terhadap manusia. Dengan lain perkataan ke semuanya melakukan praktek pembagian nilai-nilai, moral dan material, yang sangat pincang, yang pasti akan terus menerus membawa kepincangan-kepincangan. Dan secara analog dapat dikatakan bahwa setiap manusia sekarang ini dalam keadaan putus asa dan abnormal saling menekan dan……….

1.Prof. Harold J. Laski,The State in Theory and Practice(London, 1935).

memaksa satu terhadap yang lain untuk keluar dari satu kenyataan sosial dalam bentuk ‘sosial-piramida’, dan kemudian masuk ke lain cara, yang juga praktis melakukan kehidupan dalam bentuk ‘sosial-piramida’ pula. Inilah problem manusia dan kehidupan abad ke-20, “zaman di mana para pemegang kekuasaan bagaikan singa, dan para pemimpin laksana anjing dan rakyat yang diperintah merupakan kambing belaka.”-1)
Keadaan yang mencekam setiap manusia sehingga hampir seluruhnya menjadi abnormal dan patologis, tidak luput para intelektualismenya.Bagi 450 juta umat Kristen, menurut kaca mata agamanya, dalam menentukan pilihan antara ketiga dilema tadi, tidak perlu sampai menggoncangkan perasaan dan pikiran. Agama Kristen adalah “sebagai sesuatu ajaran yang bersifat paradoks yang membuat bagi manusia di dalam hidup ini tidak sekali-kali bertambah mudah, tetapi tidak terhingga sukarnya … bahwa mereka mendirikan istana-istana yang indah tetapi mereka sendiri tinggal di sisinya dan tidak hidup di dalamnya.”-2)
Dan susunan gereja Kristen yang piramidal adalah bukti yang lebih jelas lagi sehingga Agustinus dan Thomas Aquinas telah mengemukakan pledoi terhadap tuntutan keadaan, di mana ‘pengadilan-kenyataan’ telah mengetuk palu keputusannya bahwa agama Kristen dipisahkan dari kenyataan-sosial sebagai negara. Umat Kristen umumnya telah menerima sepenuhnya. Dengan demikian agama Kristen menjadi bukan satu cara untuk menyelesaikan‘kenyataan sosial’- dimaksudkan bukan cara sebagai suatu sistem tentang pembagian nilai-nilai, moral dan material dalam kehidupan bermasyarakat menurut arti politik.Keberatan prinsipil dalam pilihan mereka terhadap Marxisme agaknya semata-mata karena Komunisme adalah Atheis.Untuk umat Hindu, berdasarkan ajaran kasta, agaknya tidak ada perbedaan antara kenyataan sosial dalam bentuk sosial-piramida dan ajaran kastanya, di mana bagi golongan Sudra, teoritis, kemungkinan akan memilih Komunisme, sedangkan yang lainnyaakan memilih Liberalisme dan atau ke semuanya, tergantung kepada keadaan, akan memilih Nasionalisme. Agak lain halnya bagi umat Budha, berdasarkan ajaran delapannya, yang hendak lari ke alam sunyi memisahkan diri dari kenyataan sosial.Sehingga dalam usianya selama 2500 tahun ia tidak pernah mementaskan sesuatu lakon sebagai cara penyelesaian yang memuaskan untuk melenyapkan penindasan oleh manusia terhadap manusia.

Tetapi bagi 400 juta-3) umat Islam, yang tersebar di seluruh permukaan bumi ini,penawaran ketiga dilema tersebut di atas terhadap kenyataan sosial ini sungguh sangat menggoncangkan seluruh perasaan dan pertimbangan hidupnya. Menggoncangkan karenapetunjuk membandingkan “Manakah yang lebih baik, sistem-sistem biadab yang hendak mereka paksakankah atau sistem Islamkah,”-4) masih remang-remang terombang-ambing dalam kesadaran hidupnya, di samping rantai membelenggu mulai terbuka selilit demi selilit. Tiga belas abad lamanya umat Islam terbelenggu oleh kenyataan sosial, yang terus menerus disinari oleh dua surya Internasionalisme dalam sekali waktu, dan purnama Nasionalisme silih membadarinya di malam-malam bertaburan bintang. Seluruh aparattubuhnya menjadi kaku. Matanya menjadi berkunang-kunang sehingga padang-padang kersang dan bukit-bukit berbatu karang seolah-olah bagaikan surga dalam penglihatannya di bawah rembulan Nasionalisme. Topan “Barang siapa yang terus berpegang kepada,…..
——–
1.Al-Hadits.
2.R.F. Beerling, Apakah yang Disebut Filsafat Existensi(Jakarta: Pustaka Rakyat, Jalan Paseban 58), hal. 8.
3.Lihat, M. Nur El Ibrahimy, Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah(seri A; Bandung: NV. Almaarif), hal.10.
4.QS. al-Maidah ayat 50.

sistem-sistem biadab, tidak berpegang kepada sistem Islam, itulah manusia-manusia yang abnormal, … manusia yang tidak mempunyai pendirian, … manusia a-sosial atau penindas”-1) hanya sayup-sayup sampai di sarafnya sehingga Muhammad-nya pun terus bertumpang dagu membisu tanpa ucapan “zammiluni”. Api “Apakah hanya setengah saja yang engkau iman dan kafir yang setengah lagi, ingatlah bahwa akibatnya akan menimbulkan huru-hara dalam kehidupan di dunia”-2) tidak merasa lagi membakar hidupnya sehingga pikiran, perasaan dan pertimbangan hidupnya pun terus membatu tanpa “Qum fa andzir, wa Rabbaka fa kabbir, wa tsiabaka fa thahhir, warrujza fahjur,wala tamnun tastaktsir …,”-3)
“alam pikiran mereka tidak memberontak dan gaya berpikir tidak beradu dengan gaya perbuatan mereka.”-4)
Tanggapan tujuan pecah berderai sehingga komando “Bersatu padulah dengan tali tanggapan perikatan kepada Allah danjangan berpecah-belah”-5) tidak pernah lagi berkesan dalam kalbunya. Seolah-olah “mereka mempunyai mata hati tanpa tanggapan mendalam, dan mata tanpa penglihatan, dan telinga tanpa pendengaran,-6) begitulah aparat tubuh kehidupan muslimin atau umat Islam sekarang ini. Sehingga menyebabkan Dr. Iqbal dengan tangis pilu bersenandung:

Aku tak hajat pada telinga zaman sekarang
Aku suara penyair dari dunia ‘kan datang
Temanku sesuai tak paham maksudku mendalam Yusufku tidak sedia bagi pasarmu ini
Putus harapku sudah dari kawanku lawas
Gunung Sinaiku menyala bagi Musa ‘kan datang
Samudera mereka diam dan tenang penaka embun
Tetapi embunku gelisah penaka topan membadai
Laguku dari alam lain, bukan seperti senandung mereka
Gentaku ini musafir lain, ayo, kawan ikut bertamasya-7).

Demikianlah keadaan kaum muslimin dewasa ini, di mana saja, diseluruh dunia,khususnya di Indonesia. Mereka merupakan mayoritas, tetapi kenyataannya bagaikan segumpal pasir kering di tengah-tengah minoritas yang lain, yang dalam gerakannya berhambur dan berserak tanpa menentu. Pengertian yang bulat sebagai “Unsur mengikat untuk golongan tersusun, yang menjalankan golongan itu sebagai golongan yang bertindak adalah tanggapan tujuan bersama”-8) tidak ada lagi pada mereka sehingga umat Islam di Indonesia pecah berderai dalam beberapa pimpinan, yang satu terhadap yanglain saling bersikutan. Tanggapan tujuan mereka telah kabur, kekuatannya dalam kesadaran telah ngawur, sehingga sifat mereka dalam perjuangan sebagai umat tidak ada bedanya dengan massa yang mabuk emosi belaka, yang saban waktu dapat dipemain-mainkan oleh hanya satu move
saja dari lawan-lawan mereka.Atau mereka dalam keseluruhannya menipu diri sendiri dengan ucapan-ucapan yang satu, yaitu tujuan Islam, tetapi mereka pecah-belah dalam pengertian. Perpecahan dalam pengertianlah yang menyebabkan simpang siur dalam tindakan. Sehingga bentuk tantangan yang mereka berikan terhadap ketiga dilema yang tersebut di atas sangatlah ruwet dan kaburnya dan merupakan penyakit yang sangat kronis, meracuni tubuh…….

1.QS. al-Maidah ayat 44, 45, 47.
2.QS. al-Baqarah ayat 85.
3.QS. al-Muddatstsir ayat 1-6.
4.Dr. JJ. von Schmid, Ahli-Ahli Pemikir Besar tentang Negara dan Hukum,
terj. Mr. R. Wiratno, Mr. Jamaluddin Dt.Singomangkuto (cet. kedua; Jakarta: PT. Pembangunan), hal. 9.
5.QS. Ali Imran ayat 103.
6.QS. al-A’raaf ayat 179.
7.Mohd. Iqbal,Op. Cit.,hal. 15.
8.Prof. Mr. Kranenburg, Ilmu Negara Umum,terj.Mr. Tk. B. Sabaruddin (Jakarta-Groningen: J.B. Wolters), hal. 37.

perjuangan umat Islam sendiri, di mana saja, khususnya di Indonesia. Di lain pihak, yaitu massa umat Islam, terdapat kejahilan terhadap tujuan, dan hasil pemilihan umum membuktikan, sehingga hal ini juga merupakan sebab utama bagi kekalahan yang diderita oleh perjuangan umat Islam di Indonesia khususnya.Kaum muslimin sebagai umat kini sedang menghadapi persoalan-persoalan besar, kedalam – perpecahan yang disebabkan oleh kaburnya tanggapan dan kejahilan terhadap tujuan, yang merupakan penyakit yang sangat berbahaya bagi kehidupan perjuangan; danke luar – tidak adanya pengertian yang mendalam terhadap problem-problem Internasionalisme dan problem-problem Nasionalisme sehingga strategi dan taktik yang mereka letakkan menjadi simpang-siur dan kacau-balau, malah kian menjauhkan darikemungkinan mendekati tujuan. Tanggapan yang kabur dan atau kejahilan tujuan dan persoalan-persoalan yang dihadapi adalah pokok pangkal segala kelemahan dan kekacauan dari bentuk-bentuk tantangan yang mereka berikan, baik ke dalam maupun keluar. Oleh sebab itu, keadaan terus tidak menentu seperti terlihat ini, harus segera diakhiri. Yang pertama-tama harus segera dilakukan ialah peninjauan kembali secara fundamental dalam keseluruhan, mengenai tafsiran tujuan dan khitahnya, yang meliputi segenap segi dan bidang perjuangan; dan yang kedua memperdalam pengertian tentang pokok atau “ principia”-1.dari problem keadaan tadi, yang merupakan ‘ political philosophy’
2.atau “ philosophy of government”-3.dari kenyataan sekarang ini, dan rangkaian hubungan serta perhitungan kemungkinan-kemungkinan kesudahannya.
Sehingga berdasarkan hasil itu nanti segeralah dimulai langkah-langkah baru.Jalan dan ukuran satu-satunya dalam melakukan peninjauan yang demikian ialah “Warisan Nabi Muhammad, Quran dan Sunnahnya, yang dapat membebaskan dari terus-menerus dalam kesesatan.”-4.Tujuan dan khitah perjuangan Nabi Muhammad serta kenyataan-kenyataan yang dihadapi oleh beliau, yang mempunyai persamaan pokok dengan kenyataan sosial sekarang ini, nyata ternukil dalam lembaran sejarah, Quran dan Sunnahnya.

1.Prof. Dr. M.J. Lengeveld,Menuju PemikiranFilsafat (Jakarta: PT Pembangunan,1959), hal. 140.
2.Prof. Mr. Dr. J. Barents, Ilmu Politika, terj.LM. Sitorus (Jakarta: Yayasan Pembangunan, 1953), hal. 33.
3.R.M. Mac Iver,The Web of Goverment (New York: The Macmillan Company, 1947), hal. 403.
4.Taraktu fikum amraini ma-intamasaktum bihima lan tadhillu abadan, kitabullah was sunnati rasulih,rawahu al-Hakim dari Abi Hurairah. author @qms_r

Tentang unnanoche

I was born yesterday..and I feel as gulible today
Pos ini dipublikasikan di 1, budaya, curcol, gaya hidup, motivasi, parenting, politik, religi, tunggu selanjutnya dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s