Al Fatihah (Terjemahan Terikat)

Terjemahan Surat ALFATIHAH ini adalah sekedar memberikan satu contoh Terjemahan terikat. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan para penggemar Studi AQMSR yang menempuh pematangan Tata Bahasa Al Quran, yaitu teori Bentuk Kata (Ilmu Sharaf) dan Teori Kalimat (Ilmu Nahwu), dan Sastra Al Quran (Balaghah) dan sekaligus merupakan bahan kajian/komparatip studi untuk menguji kemampuan penguasaan para pen-studi sampai dimana mereka sudah menguasai Tata Bahasa dan Sastra Al Quran.

Para ahli bahasa berpendapat bahwa bahasa adalah alat bangsa untuk menyatakan “ bentuk kesadarannya”. Ini berarti bahwa kedudukan bahasa adalah alat dari “bentuk kesadaran” sebagai makna yang terkandung didalamnya. Dari itu kedudukan Tata Bahasa yang menata bahasa sebagai alat maknanya, dan Sastra (Balaghah) yang menata bahasa dalam memanifestasikan maknanya itu hingga memenuhi gaya , nada dan iramanya (Shautun, jamaknya Ashwat) menurut istilah pesantren dinamakan Ilmu Ba’di, dan yang membicarakan hal ihwal pengungkapannya dengan jalan perumpamaan dinamakan Ilmu Bayan, adalah menjadi Ilmu Alat. Oleh karena bukan bahasa yang menentukan maknanya, sebaliknya maknalah yang memperalat bahasa, maka Ilmu Ma’ni menjadi tidak ada lagi fungsinya dan oleh sebab itu tidak perlu masuk daftar cabang2 Ilmu dan oleh karena yang demikian sudah menjadi tugas Teori ILMU atau ILMU TAFSIR. Begitulah bidang pengkajian Tata BaHasa dan Sastra Al Quran yang mau dijangkau pada tingkatan2 selanjutnya.

Baik Terjemahan Terikat maupun Terjemahan Bebas pada dasarnya terutama dalam usaha menterjemahkan Al Quran, ialah alih bahasa yaitu usaha memindahkan kandungan bahasa (bentuk kesadaran) Al Quran ke bahasa apapun, dimaksud disini ke bahasa Indonesia menjadi se-tepat2nya atau se-objektip2nya yakni se-objektip mungkin. Tanpa menyadari yang demikian ini maka perlu disangsikan nilai terjemahannya itu bisa mencapai tepat atau objektip. Untuk itu perlu terlebih dahulu dihayati “bentuk Kesadaran” secara mendasar.

“Bentuk Kesadaran” Al Quran adalah bentuk kesadaran ialah alam pikiran bangsa yang ber-alat-kan bahasa Al Quran yakni para Nabi2 ialah Sunnah Rasul2 yaitu prinsip hidup yang bertitik tolak NUR dan Dzulumat, dengan catatan bahwa beliau2 mau hidup dengan NUR ( sehingga NUR MS-Rasul) dan tidak mau dengan Dzulumat ( sehingga Dzulumat tidak bisa jalan karena tidak ada Sunnah Rasul untuk itu).

NUR dan Dzulumat menurut Sunnah Rasul2 kita lukiskan menjadi Segi-Tiga Sama Sisi ABC dan Segi-Tiga Sama Sisi BE1C (bayangan ABC) didalam Segi-Tiga Sama Sisi ADE. NUR MS-Rasul kita perinci menjadi Segi-Tiga Sama Sisi AB1C (menjadi Al Quran dalam arti Wahyu yang belum menyentuh kesadaran manusia kecuali hanya Nabi Muhammad yang mengetahui dan menyadarinya dan dari itu ABC menjadilah Sunnah-Rasul ialah Pola atau bentuk contoh kehidupan (Uswatun) yang objektip dari ABC sehingga keobjektipannya adalah menurut Sunnah Rasul) dan Segi-Tiga Sama Sisi AB2C ialah kenyataan hidup abdi atau Mutawakkilun dengan AB1C menurut pola atau bentuk contoh (uswatun) ABC. Dan Dzulumat BE1C ialah Segi-Tiga Sama Sisi yang berkomplemen dengan Segi-Tiga Sama Sisi BE1D dan Segi-Tiga Sama Sisi CE1E didalam BCDE. Harap diingat lagi bahwa Nabi2 tidak mau dengan Dzulumat dan oleh karena itu tidak ada yang mau mengutiknya maka Dzulumat tidak jalan dalam kehidupan Rasul2.

Disinilah diperlukan tangan kotor yang mau meng-utak-atik Laknat-Allah maka Syaitanlah yaitu kombinasi JIN & Manusia yang berhati kotor memanipulasikan dan atau menyalah gunakan Laknat Allah kedalam satu kehidupan yang merusak pembuktian2 Allah MSR-NYA, dinamakan kaddaba, tawalla, asyraka dsb, secara umum . Dan Al Quran membuktikan bahwa karya tangan2 kotor yang demikian di-sponsori oleh Bani Israil dan Yahudi, yang men-dakwakan diri adalah cucu2 Nabi Ya’cub .

Surat Bayyinah ayat 1, memperinci “Kafaru”, dalam arti umum, menjadi “Musyrikina”, dalam arti umum, dan “Ahlul Kitab” ialah “kaddaba” dalam arti husus, sama dengan “Musyrik”, dalam arti husus juga.

Ingat kembali “perbandingan istilah” yang telah dijelaskan dalam Pengantar IMAN. “Kaddaba”-nya Bani Israil dan Yahudi, dalam arti husus yang sama dengan “Musyrik”-nya dalam arti husus pula, dilakukan dalam dua periode dengan masing2 titik beratnya.

Periode “Ego Sentris” ialah masa sepanjang sejarah yang dimulai dari zaman Nabi Ya’cub hingga dengan sebelum Nabi ‘Isa a,s kira2 selama hampir 2000 tahun, kita kembali mengenai pembuktian menurut Ilmu Ukur diatas menjadi berpusat pada sudut B sebagai sumbunya. Dengan demikian mulailah mereka uta-atik pembuktian2 Allah MS-R-NYA (Ingat bahwa Dzulumat itu ialah NURIN dibanding NUR MS-Rasul ialah NURN ‘ALA) yakni mereka menumpang tindihkan BE1D menjadi diatas BE1C sehingga menjadi aduk2an NUR-Dzulumat MS-Syayathin (BE1D yang berlapis diatas BE1C), kesemuanya dengan teriakan “hada min ‘indillah”. Ahirnya mereka menjadi Ashabul Kahfi (Pendukung Teori Guha Plato, dinamakan Idealisme sehingga menjadi makanan empuk Naturalisme (Thaghut) dalam pertarungan mati2an antara Imperialisme Grek lawan Romawi Barat. Hal mana mengantar Bani Israil dan Yahudi masuk periode ke dua yaitu periode dominasi Helio Sentris.

periode ke dua , yaitu periode dominasi Helio Sentris, ialah masa sejarah dimulai dari zaman nabi ‘Isa a.s. hingga awal abad ke 21 M sekarang ini, juga kira2 2000 tahun lamanya, kita kembali lagi pada pembuktian ILMU Ukur diatas menjadi berpusat pada sudut C sebagai sumbunya. Yaitu Segi-Tiga Sama Sisi CE1E yang menjadi komplemen sudut BE1C. Sampai disini harus disadari bahwa titik pemasti dari Segi-Tiga Sama sisi ABC yang bertolak belakang dengan Segi-Tiga Sama sisi BE1C didalam Segi-Tiga Sama sisi ADE adalah A dimana B, B1 dan B2 ialah Pemantul-Terang disebut NURUN ‘ALA atau NUR MS-R, sedang titik E1 (BE1C yang berkomplemen BE1D Dan CE1E) adalah Pemantul-Bayangan disebut NURIN ialah Dzulumat yang objektip ILMI-ah untuk mana para Nabi2 tidak mau maka dia tidak jalan dalam kehidupan. Maka siapa yang bersudut-pandangan demikian dan tidak menyadari bahwa yang demikian itu adalah dari A (Allah) maka dia itu akan terpaku kedalam hubungan pengalaman E1E menurut nilai subjektip dari satu apriori tanpa keruan, dinamakan “rakim” yaitu pembajak rekaman atau tukang contet, ialah Naturalisme.

Demikianlah Alam pikiran Yunani yang terdiri dari Idealisme Plato yang berpangkal “ADA tidak ada” Socrates dan Materialisme atau Naturalisme Aristoteles yang berpangkal kepada “pantarei” Descartes.

Kata orang, Alam pikran Yunani berpangkan pada Migrasi Arya ke-pulau2 Aegea pada zaman Nabi Musa migrasi bersama Bani Israil dari Mesir kembali ke Palestina kira2 1250 tahun SM (Apakah yang demikian bukan politik Ilmu Bathil Yahudi yang lempar batu sembunyi tangan?!).

Maka menjadilah Naturalisme, ialah penyalahgunaan E1E diatas BE1 untuk mendorong E1C kedalam satu kehidupan yang bagaikan “musafir dahaga dipadang pasir mengejar fatamorgana” atau “Anjing menjilat sisa bungkusan”.

Demikianlah Naturalisme Yunani, Macro Atomisme lawan Micro Atomisme, mendorong Imperium (Imperialisme) Grek bertarung saling berebut untung dengan Imerium (Imperialisme) Romawi di gunung madu dan Halwa Bani Israil dan Yahudi yang lagi sempoyongan narkotik Idealisme.

Akibatnya sekelompok Yahudi yang ber-aliran Nasrani, dengan Old Testament versi Yunani dengan New Testament sebagai pembaruannya, menjadilah “Yunani yang berjubah Kristen”, kata Max I Dimont, didalam Imperium Romawi sebaliknya, lain2 Yahudi & Bani Israil terus sempoyongan narkotik Idealisme Old Testament versi Hebrew diatas permadani Blok Timur Persia Baru. Demikianlah Idealisme ialah aduk2an Nur-Dzulumat MS-Sy dan Naturalisme ialah Penyalah gunaan Dzulumat MS-Sy, “Tidak ada permukaan Bumi awal abad ke 21 M ini yang tidak dijamah oleh peradaban Barat” kata Betrant Russel.

Awal abad ke 21 M adalah “Aufklarung” Alam pikiran Yunani. Demikianlah isi Al Quran ialah NUR dan Dzulumat MS-Rasul, dengan catatan bahwa Rasul2 mau hidup dengan NUR & tidak mau dengan Dzulumat. Demikian Qadar atau Takdir Allah MS-Rasul_NYA, siapa yang tidak mau dengan Dzulumat MS-Sy apapun barulah bisa mencapai hidup NUR MS-Rasul, Sebaliknya, siapa yang tidak mau dengan NUR MS-R niscaya dia akan terjerumus ke dalam pilihan Dzulumat MS-Sy. Dan husus terhadap pilhan Dzulumat MS-Sy apapun ini, Allah menegaskan bahwa Dzulumat ( Penyalah gunaan Dzulumat) MS-Sy dalam arti “dhallin”, mampu mencapai sekelumit nikmat di dunia ini & di akhirat adalah NAR. Tetapi aduk2an Nur-Dzulumat MS-Sy (Maghdub) adalah huru-hara disepanjang kehidupan dan diakhirat kelak adalah NAR. Setiap manusia oleh Allah diberi hak memilih bebas terbatas, Demikianlah isi Al Quran yang terkandung didalam Bahasa Al Qur’an.

Mempelajari Tata Bahasa Al Quran ialah mempelajari Penataan Bahasa Al Quran agar yang melakukan Rattil tidak akan salah tanggap tentang isi yang terkandung didalamnya.

Mempelajari Sastra Al Qur’an ialah mempelajari Hal ihwal ungkapan Bahasa Al Quran & mempelajari gaya, nada & Irama bahasa Al Quran yang mengandung makna yang demikian, dengan harapan, agar yang melakukan Rattil (studi) Al Quran jangan sampai salah tanggap makna yang terkandung didalam Al Quran. Demikianlah terjemahan Surat ALFATIHAH sebagai sekedar satu contoh terjemahan terikat disusun. Untuk itu harap kepada siapapun yang berminat dalam studi agar melepaskan diri dari iri & dengki, ahlak Yahudi yang paling oleh Allah MS-Rasul-NYA. Untuk itu mari kita bersikap objektip dengan moti atau niyat baik, untuk memperbaiki yang telah salah dan mendukung yang benar, mendukung pembangunan Ihsan semesta.

Ahirul kalam, Penyusun menadah “Magfirah, ma’unah serta bimbingan tak-tis & tehnis dari Allah MS-R-NYA”, semoga Rattil Al Quran MS-Rasul-NYA ini objektip adanya.

Semoga Allah membuka hati, pendengaran & mata seluruh ummat manusia, hususnya bangsaku bangsa Indonesia, terhadap siasat & manipulasi Yahudi yang demikian jahat merusak kehidupan se-jagat ini.

“Amin ! Ya Rabbal ‘alamin”

“Walhamdu lillahi Rabbil ‘alamin!”

Terjemahan ALFATIHAH -*). (Makkiyah : 7 ayat) -0).

(1). Mudah mudahan-1) saya hidup-2) dengan Ilmu Allah-3), yang telah mengajar al Quran-4) menurut Sunnah Rasul-5) lagi yang memberi satu kepastian hidup menurut pilihan masing-masing-6)

(2).“………., -7) menjadi penyanjung hidup-8) dengan ajaran Allah menurut S-Rasul-Nya, pembimbing kehidupan semesta tiada tanding”.

(3).“……………, yang telah mengajar al Quran menurut S-Rasul-Nya lagi yang memberi satu kepastian hidup menurut satu pilihan masing-masing”.

(4).“…………….., yang merajai sejarah hidup dengan satu penataan hidup tiada tanding”-9).

(5).“Hanya dengan ajaran (al Quran) menurut S-Rasul ANDA inilah kami hidup mengabdi, yakni hanya menurut ANDA ini juga kami menuntut satu kemenangan hidup saling tolong-menolong tiada tanding-10).

(6).“Pedomanilah hidup kami (dengan al Quran menurut S-Rasul ini) menjadi satu penataan hidup yang demikian tangguh tiada banding “.

(7).Menjadi satu penataan hidup yang ANDA telah mantapkan menjadi kehidupan (Sunnah Rasul-Rasul-11), bukan aduk-adukan Nur-Dzulumat S-Syayatin-12), juga tidak penyalah-gunaan Dzulumat menurut S-Syayatin-13)”.

———————–

*)Alternatif istilah “Alfatihah” disini ialah “Isim Jamid”, “al’Alam”, yakni “Personal Name” yaitu nama Person, seperti “Lion”, nama kota di Perancis, atau “Wadin Namlu”, nama kota/ desa diJazirah Arab, tidak boleh diterjemahkan menurut arti kata kedalam bahasa apapun, oleh karena sudah demikian ketentuan kaidah bahasa, misalnya “singa” atau “kota/desa/

lembah semut”. Begitu istilah “ALFATIHAH”, tidak boleh diterjemahkan menjadi “pembukaan atau induk karangan” oleh karena dia adalah nama person yang diberikan kepada “sab’an minal matsani-9) hiya Fatihatul Kitab hiya Ummaul Kitab..”,

kata sebuah Hadits. Begitulah dengan nama Surat-Surat selanjutnya.

0)Istilah “Makkiyah” menunjukkan bahwa Surat ini turun dalam periode nabi Muhammad saw hidup di Makkah. Dilihat dari sistematik (asbabun) Nuzul maka surat “Alfatihah” ini turun selengkapnya sesudah kali pertama turun ayat (lima ayat pada awal Surat ‘Alaq). Ahli Tafsir menanggapinya berbeda-beda. Ada yang menganggap turunnya ialah kali kedua,ada yang kali ketiga, dsb. Dilihat dari Sistematik ILMU, Sistematik Surat dan Ayat, “Iqra’ : ‘(anta) bismi rabbika”, maka Surat Alfatihah adalah memberikan jawabannya. Maka cukup disiplin (tertib lawan kacau) kalau Surat Alfatihah ini turunnya adalah kali kedua. Turunnya “Alfatihah” berarti al Quran seumumnya dalam arti pokok pokonya secara umum.

Dengan demikian maka kedudukan Alfatihah ialah Induk Karangan, Surat-Surat Pendek (terutama Surat Ikhlas) menjadi kesimpulannya dan Surat-Surat Panjang ialah perinciannya.

1)Hubungkan dengan Surat Baqarah ayat 221, Surat Yunus ayat 25, dsb, “yad’u – du’a-un”, menjadi al Quran seumumnya dan khususnya Surat Alfatihah, lebih-lebih lagi merupakan bacaan inti dalam Shalat, berarti doa atau harapan, dalam bahasa Indonesia disebut “Mudah-mudahan, semoga, dsb.”. ialah dua rancangan kehidupan saling bertolak belakang.

2)Istilah “saya” (ana), pihak ke-Satu, adalah perubahan sebagai jawaban dari dan atau terhadap perintah “Iqra’:‘(anta), pihak ke-Dua (khitab)……”. Dan ingat arti “qara-a – yaqra-u – qira-a-tan, qur-anan” ialah baca hingga yang dibaca itu menjadilah pandangan yang membacanya.

3)Istilah “ismun”, jamaknya “asma-un”, berarti nama atau, berdasar Surat Baqarah ayat 31, “Wa’allama Adama (‘ilman) al asma-a”, menjadi alternatipnya disini ialah “ILMU atau ajaran Allah”.

4)Hubungkan dengan Surat ar Rahman ayat 2, “’allamal (‘ilma) quran”, menjadi alternatip “ismi” disini ialah ILMU atau ajaran. Isinya adalah NUR dan Dzulumat (qadar).

5)Istilah “menurut Sunnah Rasul”, hubungkan dengan hadits: “Inna ash-daqal hadits Kitabullah wa khairu huda huda Muhammad …………”, menjadi al Quran ialah penjelmaan kalam Allah menjadi “menurut Sunnah Rasul Muhammad saw”.

6)Istilah “ar rahim” jamaknya “ruhama-u”, hubungi Surrat Fath ayat 29, “ruhama-u bainahum…… fi wujuhihim min atsaris sujud”,menjadi satu kepastian hidup (qadla).

7)“………” ialah isyarat bahwa pokok atau pokok dan keterangan kaliamatnya dibuang (mahdluf) dibuang sebutannya tetapi tetap dipakai.

8)Istilah “al hamdu” bisa berbentuk Masdar dan bisa pula berbentuk Kata Pelaku (Isim Fa’il dalam bentuk Musyabbahah atau Mubalaghah), berdasar alasan Sharfiyah. Dan berdasar Teori Kalimat (Nahwiyah) dengan tujuan utama ialah Kalimat Sempurna (Kalimatun tammun) maka alternatip “al hamdu” disini ialah Kata Pelaku (imbuhan pe + Masdar = sanjung)menjadilah alternatipnya ialah penyanjung. Alternatip Masdar akan mengakibatkan kalimat menjadi “gharib” (tidak sempurna maka perhatikan ancaman Surat Taubah ayat 32 dan Surat Shaf ayat 8.

9)Hubungkan dengan Surat Kafirun ayat 6, “din” (sama dengan Sabil atau Shirath), berarti Dinul Islam satu penataan hidup Haq menurut Sunnah Rasul dan atau Din Batil ialah pilihan Dzulumat menurut Sunnah Syayatin.

10)Hubungkan dengan Surat Rum ayat 21, Dinul Islam dinamakan “mawaddah dan rahmah”, dan simpulkan dengan Surat Nashar ayat 1, “nashrullah wal fathu”, kata Hadits “Kal jasadi ………”.

11)Hubungkan dengan Surat Baqarah ayat 132, 133 dan 136; Surat Ma’idah ayat 3; dsb.

12)Hubungkan dengan Surat Baqarah ayat 42, 79 dan 85; Surat Ali Imran ayat 71; dsb. Surat Nisa’ ayat 51, menyebut “jibti” sama dengan Idealisme, dsb.

13)Hubungkan dengan Surat Baqarah ayat 257, “Thagut” ialah pendukung Naturalisme ialah penyalah gunaan Dzulumat menurut Sunnah-Syayatin, terbagi kedalam Individualisme (Liberalime) dan Kolektipisme (Komunisme, Sosialisme, dsb.). Dari itu, bagi siapa yang mau melakukan studi al-Quran maka perhatikan perintah Surat Nahl ayat 98 dan 99, “Fasta’id billahi minasy syayatanir rajim”. author @qms_r

Iklan

Tentang unnanoche

I was born yesterday..and I feel as gulible today
Pos ini dipublikasikan di 1, budaya, curcol, gaya hidup, kesehatan, makanan, motivasi, parenting, religi, sosial, tunggu selanjutnya dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s