Benarkah “IMAN” Adalah Percaya?????!!!

Sejarah Islam di dunia & berbagai aliran bermunculan Paska wafat nya Sahabat Ali bin abi thalib.tulisan ini bisa dijadikan bahan
studi banding atas berbagai kejadian di-dunia islam sekarang (khususnya di RI).
Kita mulai dari “IMAN secara umum” sebagai pintu masuk sebenarnya ada apa dengan Istilah Iman berkaitan dengan Sejarah Islam (Quran)?
1. Tantangan.
Begitu mendengar istilah “IMAN” maka massal manusia dalam kehidupan abad ke-21 menganggap “IMAN ialah percaya”.
Untuk membuktikan konstatering tersebut diatas maka pertama-tama kita petik tanggapan Yahudi dan Nasrani yang menganggap “
Iman itulah percaya…..”-1).
Selanjutnya untuk lingkungan Islamisme, khususnya di Indonesia, kita petik tanggapan Doctor Hamka yang juga menganggap “Iman
……berarti percaya, dan Islam yang berarti menyerah dengan segala senang hati dan rela, timbulnya ialah setelah akal itu
sendiri sampai pada ujung perjalanan yang masih dapat dijalaninya. Oleh sebab itu maka bertambah tinggi perjalanan akal,
bertambah banyak alat pengetahuan yang dipakai, pada akhirnya bertambah tinggi pulalah martabat Iman dan Islam seseorang”-2).
“Maka kalimat Iman dan Islam, percaya dan menyerah, adalah dua kalimat yang tidak bercerai selama-lamanya”-3). “Perpaduan
yang tidak terpisah diantara kepercayaan dan penyerahan, diantara “Aqidah dan Ibadah”, diantara pengakuan hati dan perbuatan,
itulah agama yang sewajarnya. Maka agama itulah yang dinamai Agama Islam”-4).
Seterusnya kita petik lagi tanggapan M.Hasbi Ash Shiddiqi yang juga menganggap “Iman ialah: Engkau ber-iman (membenarkan
dengan lidah dan hati) akan Allah, akan Malaikat, akan berjumpa dengan Allah, akan Rasul-rasul-Nya dan akan bangkit”-5).
“Iman itu mempercayai (mengetahui) akan ke-Tuhanan-Nya Allah dan tempatnya (Iman) didalam dada, yakni hati itu. Ma’rifat itu
mengetahui Allah akan segala sifat-sifatnya. Tempatnya (ma’rifat) didalam lubuk hati, yakni didalam Fuad. Tauhid itu,
mengetahui Allah (Meyakini Allah) dengan ke-Esaan-Nya. Tempatnya didalam lubuk fuad; dan itulah yang dinamai ‘SIRR’
(rahasia)”-6).
Selanjutnya M.Hasbi As Shiddiqi membikin perincian “Tauhid itu, ringkasnya terbagi kepada :
1. Tauhidudz Dzat (meng-esakan Dzat Tuhan).
2. Tauhidudz Shifat…………………………………
___________________
1). ALKITAB, PERJANJIAN BARU, Surat kiriman kepada orang Ibrani 11 : 1 (halaman 324), Surat kiriman Yacob 2 : 19 dan 23
(halaman 331) dan Surat kiriman yang pertama dari pada Yahya 5 : 1 dan 10 (halaman 347), terbitan Lembaga Alkitab Indonesia,
Djakarta 1960.
2), 3) dan 4). Doctor Hamka, Pelajaran Agama Islam, halaman 26 dan 296, Jakarta 1960.
5) dan 6). M. Hasbi Ashiddiqi, AL ISLAM, halaman 52 dan 66.
3. Tauhidudz Shifat (meng-Esakan sifat2 Tuhan).
4. Tauhidul-Wujud (meng-Esakan Wujud Tuhan).
5. Tauhidul-Af’aal (meng-Esakan perbuatan Tuhan).
6. Tauhidul-Ibadat (meng-Esakan yang disembah dan tempat ber-mohon).
7. Tauhidul-Qishdi wal iradah (meng-Esakan yang dituju) .
8. Tauhidul-Tasyrie’ (meng-Esakan yang berhak menetapkan pokok2 undang2”-7).
Akhirnya M.Hasbi Ash Shiddiqi mengolah Hadits Bukhari-8) dan menyimpulkan kedudukan Iman itu demikian “bahwa Dien itu, Iman,
Islam dan Ihsan.
Sebagian dari susunan Agama dinamai : Iman, sebagian lagi dinamai Islam dan sebagian lagi Ihsan. Akan tetapi penerangan
Hadits ini tidak boleh dijadikan, bahwa : Iman, Islam dan Ihsan, berlain-lainan haqikatnya dan bersaing-saingan. Sebenarnya
masing-masing kalimat ini menunjukkan kepada hakikat ‘A DIEN’. Masing-masing memerlukan yang lain; tiada terlepas dari yang
lain. Nabi me-lain-lain-kan sebutan : Iman. Ini, ini, ini; Islam, ini, ini, ini; dan Ihsan, itu, itu, itu; adalah buat
memudahkan jawaban lantaran penanya menanya : Apa itu Iman, Apa itu Islam, dan Apa itu Ihsan. Maka Nabi menjawab dengan
sangat bijak untuk masing-masing pertanyaan diasingkan (dilainkan) jawab. Kemudian diakhir Hadits, Nabi tegaskan bahwa semua
itu ‘AD DIEN’ = Agama”-9).
Atas satu tanggapan tentang yang dimaksud oleh Hadits Bukhari “Iman itu tersusun dari 69 atau 79 cabang” maka M.Hasbi Ash
Shiddiqy meng-kongkritkan kedudukan “Iman” menjadi bagian dalam rangka Dinul Islam keseluruhannya, kita petik sebagai
berikut, seperti tersebut pada halaman 3.
AD DIENUL ISLAM. (SKET)
______________________
7). M. Hasbi Ash Shiddiqy op cit halaman 106.
8). Yaitu pertanyaan Jibril kepada Nabi Muhammad saw :
Maa huwal Iman? (Apakah yang dimaksud dengan Iman?)………
Maa huwal Islam (Apakah yang dimaksud dengan Islam?)………
Maa Huwal Ihsan (Apakah yang dimaksud dengan Ihsan?)………
Matas Sa’ah……. (Kapankah Sa’ah-nya tiba?)……………………
9). M. Hasbi Ash Shiddiqy op cit halaman 52.
10).M. Hasbi Ash Shiddiqy op cit halaman 45.
Demikianlah telah kita petik kenyataan tanggapan di Indonesia dalam abad ke-21 ini yang menganggap “Iman ………. Berarti
Percaya”, disamping mempunyai Paralelisasi dengan pendirian Yahudi dan Nasrani yang juga menganggap “Iman itulah Percaya….”,
maka yang demikian itu adalah pengaruh langsung dari tanggapan Arab tentang istilah “Iman” yang terkandung didalam Al Quran
menurut Sunnah Rasul, sebagai pembuktian maka dibawah ini kita petik tanggapan Syekh Muhammad Abduh, yang sudah diterjemahkan
kedalam bahasa Indonesia-11), demikian “……..bahwa Iman ialah, keyakinan dalam kepercayaan kepada Allah, kepada Rasul-Nya dan
kepada hari yang akhir, tanpa terikat oleh suatu apapun, kecuali harus menghormati apa-apa yang telah disampaikan dengan
perantaraan lisan para Rasul Tuhan-12)”.
“Tauhid adalah satu Ilmu yang membahas tentang “Wujud Allah”, tentang sifat-sifat yang wajib tetap pada-Nya, sifat-sifat yang
boleh disifatkan kepada-Nya dan tentang sifat-sifat yang sama sekali Wajib dilenyapkan dari pada-Nya; juga membahas tentang
Rasul-rasul Allah, meyakinkan ke-Rasulan mereka, meyakinkan apa yang wajib ada pada diri mereka, apa yang boleh dihubungkan
(nisbah) kepada diri mereka dan apa yang terlarang menghubungkannya kepada diri mereka”-13). Maka yang demikian menjadi jelas
bahwa ilmu Tauhid membikin ujud Allah menjadi sasaran atau objek Study-nya!.
“Ilmu Tauhid itu dinamakan orang ‘Ilmu Kalam’, ialah karena dalam memberikan dalil tentang pokok (usul) agama, ia lebih
menyerupai logika (mantiq) sebagaimana yang biasa dilalui oleh para ahli pikir dalam menjalankan seluk-beluk hujjah tentang
pendiriannya”-14). “…… dinamakan juga ia Ilmu Kalam ialah karena adakalanya masalah yang paling masyhur dan banyak
menimbulkan perbedaan pendapat diantara Ulama-ulama kurun pertama yaitu : Apakah ‘Kalam Allah’ (Wahyu) yang dibacakan itu
‘baharu’-15) atau ‘Kadim’-16). Dan adakalanya pula, karena Ilmu Tauhid itu dibina oleh dalil akal (ratio) –17), dimana
bekasnya nyata kelihatan dari perkataan setiap para ahli yang turut berbicara tentang ilmu itu”-18).
“Awal ………………
__________________
11). Sjech Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, terjemahan Indonesia, H. Firdaus A.N, cetakan kedua, halaman 258, Jakarta 1965.
12). Idem hal 229.
13 Idem hal 24.
14). Idem hal 26.
15). “baharu” ialah tidak tetap dan ber-ubah2, ‘Pantarei’.
16). “Kadim” ialah Kekal, tetap, Abadi, dan tidak ber-ubah2.
17). Bandingkan Langeveld, Menuju fikiran Filsafat, Jakarta 19..hal… “Ratio ialah Seluruh kemampuan memahami”.
18). Sjech Muhammad Abduh op cit hal 26.
“Awal masalah yang menimbulkan pertikaian diantara mereka adalah, masalah ‘ikhtiar’-19), kebebasan kemauan manusia dan
perbuatannya dengan ikhtiar itu, dan masalah tentang orang yang melakukan dosa besar, sedang ia tidak tobat. Dalam masalah
tersebut, pendapat Wasil bin ‘Atha’, telah berbeda dengan pendapat gurunya, Hasan al Basri-20). Wasil kemudian memisahkan
diri dari gurunya, yang lantas mengajarkan pokok-pokok agama, baik yang diterimanya dari gurunya ataupun pendapatnya sendiri.
Akan tetapi dalam masalah itu, kebanyakan kaum Salaf-21), diantaranya termasuk Hasan Basri sendiri, setuju dengan pendapat,
bahwa seorang hamba, bebas melakukan perbuatan-perbuatannya yang ditimbulkan oleh Ilmu dan kemauannya-22). Golongan
Jabariah-23) membantah pendapat itu dan berpendirian, bahwa manusia dalam segala kehendak perbuatannya tak ubahnya seperti
ranting-ranting pohon kayu yang bergerak lantaran terpaksa belaka”-24).
“Ditengah-tengah situasi yang seperti ini pulalah timbulnya sengketa diantara golongan-golongan yang berlebih-lebihan
kemerdekaan berpikir dengan golongan pertengahan (moderat), atau dengan golongan yang terlalu teguh berpegang pada lahir
syari’at belaka-25)”-26). “Dibelakang mereka ini, terdapat lagi golongan yang menganggap dirinya telah berhubungan batin
dengan Tuhan sehingga mengatakan, bahwa Tuhan telah bertempat dalam dirinya (hulul, immanent); atau kaum Materialis-Atheis
(dahrijjun), yang berusaha hendak membawa Al-Quran kearah lain, sesuai dengan pendirian mereka, yang selama ini telah
di-infiltrasikan-nya kedalam Islam”-27).
“Mereka ini (yang telah berhubungan batin dengan Tuhan) terkenal juga dengan nama kaum ‘Kebatinan’ (Batiniyah) atau
‘Ismailiyah’-28)”-29).
“Disekitar masa inilah-30) tumbuhnya ‘Ilmu Tauhid’, tetapi belum begitu sempurna berkembangnya, dan belum begitu tinggi
mutunya. Dan mulailah pembicaraan tentang ‘Ilmu Kalam’-31), yakni dengan menghubungkannya kepada pokok pikiran tentang
kejadi-………
__________________
19). Ingat bahwa istilah “ikhtiar” adalah masdar dari kata kerja “ikhtaara-yakhtaru-ikhtiyaar” artinya memilih. Dan
hubungkan kepada masalah “alternatif-objectif” yang tergantung kepada nilai-nilai ilmiah dan “alternatif-subjectif” yaitu
pilihan manusia yang tergantung kepada seleranya.
20). Yakni seorang ulama Kuffah, yang pernah menjadi murid Ali bin Abi Thalib.
21). “Kaum Salaf” ialah ulama pengikut para sahabat Nabi.
22). Ingat aliran otonom, menjadi Qadarite, berujud Qadariyah.
23). Ingat aliran Heteronom, menjadi Jabarite, berujud Jabariah.
24). Syech Muhammad Abduh op cit hal 34.
25). Juga kadang2 disebut kaum Murji’ah.
26). Syech Muhammad Abduh op cit hal 37.
27). Syech Muhammad Abduh op cit hal 37.
28). Ingat mazhab Aga Khan, ialah salah satu cabang Ismailiyah.
29). Syech Muhammad Abduh op cit hal 37.
30). Yakni dizaman Abdul Hasan Al-Asy’ary.
31). Bandingkan P. K. Hitti, History OF Arabs, London 1937, hal
Tentang kejadian alam, sesuai dengan ketentuan Al-Quran tentang hal itu”-32).
“Adapun Mazhab Filsafat-33), maka ia senantiasa mendasarkan pendapatnya kepada fikiran semata-mata. Dan tidak ada cita-cita
kaum filsafat itu kecuali untuk menemukan ilmu dan menyempurnakan apa yang membawa kepuasan akalnya dalam membukakan tabir
rahasia sesuatu yang belum diketahui, atau mengemukakan apa yang menjadi hasil pikiran akal”-34)
“Telah banyak simpang siurnya paham wasil dan pengikut-pengikutnya, diantaranya, mereka berpendapat ilmu pengetahuan dari
buku-buku Yunani-35), sesuai dengan kemampuan mereka”-36).
“Tetapi, namun demikian hebatnya pertengkaran diantara mereka, hal itu tidaklah menjadi halangan bagi masing-masing pihak
untuk memperdalam ilmu dan mengambil sesuatu yang berfaedah-37) bagi mereka tentang keilmuan, oleh salah satu pihak dari yang
lainnya atau sebaliknya. Keadaan itu berlangsung pula sedemikian rupa, sehingga muncul pula Syekh Abu Hasan Al Asy’ary, pada
awal kurun ke empat (lahir tahun 270 H). Beliau berjalan ditengah, yakni keyakinan kaum Salaf dan keyakinan orang yang
menentang mereka (suatu Syntese)-38), Ia menetapkan pokok kepercayaan (akidah) menurut pokok-pokok yang sesuai dengan tujuan
akal-39). Tetapi kaum Salaf meragukan kebenaran pendirian beliau itu dan banyak diantaranya yang menyerang akidahnya yang
demikian itu, sehingga pengikut-pengikut mazhab Hambali, meng-kafirkan pendirian itu dan menghalalkan darah orang yang
menganutnya. Sebaliknya, kemudian beliau dibela oleh satu jama’ah ulama-ulama terkemuka, diantaranya seperti Abu Bakar Al
Baqilani, Imam Haramin, Imam Al As Faraini dll. Dan pendirian beliau ini mereka namakan dengan mazhab Ahli Sunnah wal
jama’ah-40).
M.Hasbi Ash Shiddiqy menemukakan latar belakang dari anggapan “Iman………. berarti percaya” dan Ilmu Tauhid …..”, demikian,
“……Abdul Hasan Al-Asy’ary (wafat pada tahun 330 H). yang telah mempelajari ilmu Kalam pada Abu ‘Ali Al-Jubaa-ie dan …………
—————–
Sambungan not halaman 5). Alam pikiran Greek. Dan Doktor Hamka, Perkembangan Tasauf dari Abad ke Abad, Jakarta 1962, halaman
39 s/d 46; dsb.
32).Syekh Muhammad Abduh op cip. halaman 36.
33).Idem not 26, terutama halaman 369.
34).Syekh Muhammad Abduh op cip. halaman 39, terutama halaman 44, Hukum Akal tiga; yaitu : Wajib, mustahil, dan mungkin
terhadap yang dapat diketahui.
35).Ingat istilah “Sarasin” yaitu hasil kebudayaan dari unsur – unsur Helinisme, Persia dan Arab.
36).Syekh Muhammad Abduh op cip. halaman 35.
37).Bandingkan Dr. A. Lysen, Individu dan Masyarakat, terjemahan Indonesia, Jakarta 19…..halaman…, “Bah didalam pembentukan
kebudayaan, setiap generasi mewakili dari generasi sebelumnya diambil mana yang cocok untuk mereka dan dibuang selainnya”,
dan mengikuti paham Muktazilah 40 tahun lamanya, hingga mendapat kedudukan istimewa dalam mazhab Muktazilah itu. Sesudah
sekian lama beliau berkecimpung dalam laut muktazilah, pada suatu hari beliau mem-proklamirkan keluarnya dari mazhab
muktazilah itu.
Berbarengan dengan pengumumannya itu, beliau lalu menulis buku dalam ilmu Kalam. Didalam kitab itu beliau tegaskan bahwa
pendapatnya dalam soal tanzikh-41), serupa dengan pendapat Salaf, sambil menolak dan membantah faham-faham muktazilah yang
terus dianut oleh teman-temannya terdahulu.
Dimasa itu pula lahir lagi seorang ahli Kalam, Abu Mansur Al-Maturidy (meninggal pada tahun 333 H.)-42), dengan mempunyai
pendirian yang berdekatan dengan faham Abu Hasan. Abu Mansur mengarang beberapa buah kitab menolak faham golongan yang telah
lahir dimasanya itu. Beberapa lama kemudian lahirlah Abu Hamid Al Ghazaly (meninggal pada th 505 H). Imam besar ini
memperhatikan segala tulisan yang telah ditulis dan disusun oleh Asy’Ary dan Al Maturidy dan pengikut-pengikutnya.
Al Ghazaly serta pengikut-pengikut-nya berkata: kedua-dua Imam besar itu mempunyai keutamaan yang besar dalam soal
membenarkan kepercayaan ummat. Akan tetapi, masih ada juga yang perlu dikoreksi. Maka Al Ghazaly pun membuat bantahan
terhadap pengikut-pengikut Al Asy’Ary dan Al Maturidy, sebagaimana beliau menyusun bantahan-bantahan terhadap kaum Falsafah.
Al Ghazalylah pemulaan penulis yang menulis Ilmu Tauhid bercampur Falsafah.
Kemudian dari itu bangunlah ulama-ulama Persia menambahkan banyak soal falsafah masuk kedalam ilmu kalam dan terjadilah
berbagai perselisihan, bantah membantah, hingga porak porandalah ilmu dan menjadi sia-sialah kita mencari ilmu kalam dalam
buku-buku yang bercampur baur itu.
Lama………..
_______________________
38). Ingat Teori Hegel; These – Anti These – Synthese, yang seperinsip dengan dengan Not 37.).
39). Ingat kembali Not 17).
40). Syekh Muhammad Abduh op cip. halaman 38.
41). Istilah “tanzich” ialah mensucikan Tuhan dari berbagai kekurangan/ yang mustahil.
42). Perbedaan antara Asy’Ary dan Al Maturidy ialah bahwa, jikalau Asy’Ary mengajarkan Tauhid menjadi sifat Dua puluh,
maka Al Maturidy mengajarkan Tauhid itu menjadi sifat Tiga Belas.
Lama kemudian bangun pula segolongan ahli nadhar memperhatikan isi kitab-kitab tulisan ulama Persia, dan lalu menulis
beberapa buah kitab yang tersusun dari berbagai rupa paham dengan memuatkan dan mendahulukan paham Asy’Ariyah. Dalam hal yang
demikian, mereka masukkan kedalam kitab-kitab itu berbagai-bagai dalil yang berdasarkan sangkaan; dan terus dengan
berangsur-angsur faham-faham itu tersemi dalam lubuk jiwa pelajar-pelajarnya. Dengan demikian timbul pula penyakit baru.
Kitab-kitab ini mereka namai: kitab-kitab Mutaakhirin dan dialah kitab-kitab yang dipelajari penuntut-penuntut ilmu tauhid
ditanah air kita, disurau-surau dan dipesantren-pesantren, bahkan disekolah-sekolah juga.
Dengan memperhatikan periode-periode yang telah dilalui ilmu Tauhid, tahulah kiranya sudah, apa sebabnya ilmu Tauhid itu
bercampur dengan falsafah: sehingga apabila kita ambil iktikad dari kitab itu, berarti kita ambil aqaa-id dan falsafah.
Mengambil aqaa-id yang bersih, tidak mudah lagi dari kitab-kitab itu”-43).
Akhirnya M.Hasbi Ash Shiddiqy, sambil mereklamekan bukunya, mengimpikan ‘tegaknya benang basah-nya’, “Maka, mengingat ini dan
itu, “Al Islam” ini mengemukakan kepada pembaca aqiedah-aqiedah yang terbetik dari Al Quran, sebagai satu usaha mempersatukan
aqiedah ummat yang mewujudkan persatuan yang kokoh-erat. Dengan demikian, berartilah kami kemukakan: aqiedah yang bersih yang
terlepas dari falsafah. Allahumma waffiq!”-44).
Demikianlah kita kutip “Iman ….berarti percaya” yang sudah menjadi tanggapan abad ke 21. Dari bukti-bukti kutipan tersebut
menjadi jelas bahwa sesungguhnya tanggapan “Iman …..berarti percaya”, dilihat dari sudut Sistematika, adalah didasarkan
kepada anggapan klasifikasi dan spesialisasi ajaran Islam, yaitu Al Quran menurut Sunnah Rasul, menjadi ajaran-ajaran Tauhid,
fiqih, Akhlaq dan Tasauf . Dan lebih unik lagi adalah anggapan M. Hasbi Asy Shiddiqy yang membikin klasifikasi dan
spesialisasi yang demikian itu kearah “AMALAN BATHIN” dan “AMALAN DHA-HIR” menjadi klasifikasi “AD-DINUL ISLAM”, seperti kita
petik diatas. Dan yang penting ditanggapi disini ialah tanggapannya yang hendak membikin pohon IMAN menjadi hanya salah satu
cabang belaka dan cabang Dinul Islam dibikin menjadi pohonnya. Satu model cangkokan yang aneh bin ajaib, lebih lucu dari
cerita Seribu Satu Malam.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa, betapapun aliran-aliran Islamisme dalam abad ke-21 ini terpecah belah, apakah dia mazhab
Malikiah, Hanafiah, Syafi’iyah dan Hambaliyah, yang dinamakan Ahlus sunnah ataukah mazhab Qadariyah: Mu’tazilah dan Khawarij,
maupun mazhab Jabariyah: Syi’ah dan berbagai aliran Tasauf, tarikat dan Mistik, dsb, namun……….
————————————
43). M. Hasbi Ash Shiddiqy op cit hal 118 dan 119.
44). Idem halaman 121.
namun satu jua sistimatiknya yaitu Tauhid, Fiqih, Akhlak dan Tasauf. Dari itu maka tanggapan Iman-nya pun bersatu menjadi
“Iman….berarti percaya”! Dan kalaulah benar-benar bersatu dalam Iman nya itu maka mengapa sepanjang sejarah selama 14 abad
sepeninggalan Nabi Muhammad saw s/d abad ke-21 sekarang ini, terus menerus dalam keadaan……………………….-45), yaitu saling cekcok
dan saling baku hantam diantara sesamanya.
Demikianlah kita petik “Iman….Percaya” yang sudah Representatif kehidupan abad ke-21, baik itu ditingkat Nasional Indonesia
khususnya dan tingkat Internasional, khususnya di Indonesia, dan diseluruh dunia umumnya, dalam abad ke-21 sekarang ini,
bukanlah satu pertumbukan dan perkembangan dari dalam tetapi yang demikian adalah pengaruh langsung dari tanggapan Arab
terhadap istilah “Iman” yang terkandung didalam Al-Quran, yang mempunyai alternatif-objectip tersendiri dari Allah msR-Nya.
Untuk itu maka, satu pertanyaan besar akan timbul, benarkah “IMAN” itu “……berarti PERCAYA”? Benarkah sistimatik Tauhid,
Fiqih, Akhlaq dan Tasauf itu bernilai alternatif-objectif dari Allah, yaitu Al-Quran msR-Nya..? Bagaimanakah jawaban “Iman”
yang sebenarnya oleh Al-Quran msR-Nya..
author @qms_r

Tentang unnanoche

I was born yesterday..and I feel as gulible today
Pos ini dipublikasikan di 1, budaya, curcol, gaya hidup, kesehatan, makanan, motivasi, parenting, religi, sosial, tunggu selanjutnya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Benarkah “IMAN” Adalah Percaya?????!!!

  1. asep iwan berkata:

    satu tingkat benar arti kata “iman” itu adalah percaya. tidak salah. namun kurang representatif menggambarkan makna “iman” dalam Al-Qur’an.

  2. 020506indah berkata:

    Klu Percaya ya percaya aja, muter2 aja omongannya ampe tengkorak pala pecah.. capek deh..!

  3. Tanti berkata:

    Iya juga sih jadi ga nyambung ke sananya kalo iman=percaya tp kalo pandangan n sikap hidup semuanya harus ikut aturan Allah. Cuma kitanya aja yg ga berpendirian total Islam jadinya beriman kagak,kufur 100% kagak! Bangsa nanggung kalee ya. Maaf aku bkn ahli cm berpendapat aja

  4. risma berkata:

    Ini masalah MORAL, bukan masalah DOGMA. Dogma bisa saja membuat otak kita bingung dan pusing tujuh keliling, tapi kita tidak bisa serta-merta mengatakan dogma itu salah hanya karena kita bodoh dan sukar untuk menangkap maksudnya. Sementara masalah MORAL adalah masalah NURANI, dan orang yang tidak buta rohani akan dapat menentukan sesuatu itu PANTAS atau TIDAK PANTAS, BAIK atau TIDAK BAIK, BENAR atau SALAH.

  5. risma berkata:

    Kebenaran Dogma ditentukan nanti setelah kiamat, sementara kebenaran suatu moral ditentukan saat ini juga selama kita masih punya nafas kehidupan. Dan orang yang masih saja menganggap MORAL BEJAT sebagai sesuatu yang benar adalah ORANG ***** yang pantas diludahi, digampar, dikeplak, ditabok, sampai orang itu benar-benar mau menggunakan akalnya. Kalaupun sudah dihajar habis-habisan dan dipermalukan habis-habisan masih tetap saja *****, maka orang seperti itulah yang kita namakan “SAMPAH MASYARAKAT”.

    Kalau manusia sudah menjadi SAMPAH, maka apa yang dilakukannya akan selalu merugikan sesamanya, seperti apa yang dilakukan oleh muslim kaffah di berbagai belahan dunia. Apa sih SUMBANGAN POSITIF yang telah Muslim kaffah berikan untuk dunia beradab?

    Otak “Sampah” berpikirnya akan terbolak-balik. Yang Bejat dikatakan benar, sementara yang baik dikatakan salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s