Sekali Lagi Al Qur’an BUKAN BAHASA ARAB!!!!!!

Al-Qur’an bukan bahasa Arab tapi Bahasa Para-Nabi2 namun Qur’aanan arabiyyan menjadi berarti bahasa Al-Qur’an yang serumpun dengan bahasa Arab.

Satu judul yang berani menantang arus, dimana selama ini sejak Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia pada khususnya dan Dunia pada umumnya telah menetapkan bahwa bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Arab.

Alasan menetapkan bahwa Al-Qur’an adalah berbahasa Arab ini diantara lain berdasarkan tafsir ataupun terjemahan Al-Qur’an pada banyak buku-buku tafsir yang menterjemahkan misalnya : Tafsir Departemen Agama yang menterjemahkan diantara lain surat Yusuf ayat 2 demikian :

INNAA ANZALNAAHU QUR;AANAN ‘ARABIYYAN LA’ALLAKUM TA’QILUUN.

Yang diterjemahkan oleh DEPAG sebagai berikut :

”Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

Semua buku-buku tafsir di Indonesia sebagian besar menterjemahkan Qur’aanan Arabiyyan atau Lisaanan Arabiyyan menjadi berarti Al-Qur’an berbahasa Arab.

Itulah sebabnya orang Indonesia sangat menghormati orang Arab yang dapat berbicara bahasa Arab sehingga dianggapnya semua orang Arab mengerti Al-Qur’an.

Tidak salah juga ketika dalam satu drama Bajaj Bajuri dikisahkan ada orang Arab yang berbicara dengan Said tentang percakapan biasa lalu diaminkan oleh jamaah yang hadir pada saat itu, sehingga mengundang rasa geli melihat drama tersebut..dan itulah gambaran sebagian besar masyarakat Indonesia tentang Bahasa Arab yang dianggap sama dengan bahasa Al-Qur’an.

Ada pula satu peristiwa ketika seorang ibu menemui kertas Koran dengan tulisan Arab, maka kertas tersebut diangkatnya dan disimpannya baik-baik seperti menemui potongan sebuah surat dalam Al-Qur’an, yang memang kalau potongan surat Al-Qur’an harus dimuliakan dengan dianggkat dan kalau sudah tidak terpakai lagi bisa dibakar agar tidak jatuh ke tong sampah.

Oleh karena Al-Qur’an sudah dianggap bahasa Arab, maka syarat mutlak untuk bisa menterjemahkan Al-Qur’an menurut M.Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir halaman 192 – 193, harus menguasai ilmu-ilmu sebagai berikut :

1. Lughat Arabiyyah

Dengan ilmu ini diketahui syarah kata-kata tunggal. Kata Mujtahid :”Orang yang tidak mengetahui seluruh bahasa Arab, tidak boleh baginya menafsirkan Al-Qur’an.

2. Undang-undang bahasa Arab.

Yaitu undang-undang/aturan-aturannya, baik mengenai kata-kata tunggalnya, maupun mengenai takrib-takribnya. Tegasnya mengetahui Ilmu Tashrif dan Ilmu Nahwu.

3. Ilmu Ma’ani, Bayan dan Badi’.

Dengan Ilmu Ma’ani diketahui khasiat-kasyiat susunan pembicaraan dan jurusan memberi pengertian. Dengan Ilmu bayan, dikatehui khasyiat-kasyiat susunan perkataan yang berlain-lainan. Dengan Ilmu Badi’, diketahui jalan-jalan keindahan pembicaraan.

4. Dapat menentukan yang Mubham, dapat menjelaskan yang Mujmal dan dapat mengetahui sebab Nuzul dan nasakh.

Penjelasan-penjelasan ini diambil dari hadits.

5. Mengetahui Ijmal, Tabyin, umum, khusus, itlaq, taqyid, petunjuk suruhan, petunjuk larangan dan yang seperti ini diambil dari ushul fiqhih.

6. Ilmu Kalam

7. Ilmu Qira’at.

Dengan Ilmu qira’at dapat diketahui bagaimana kita menyebut kalimat-kalimat Al-Qur’an dan dengan dialah dapat kita tarjihkan sebagian kemuhtamilan atas sebahagiannya.

Adapun penafsiran yang dikatakan penafsiran dengan pikiran yang dilarang oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Turmudzi dan An Nasa-iy, maka jika hadits itu dipandang benar, ialah : menafsirkan Al Qur’an dengan tidak memperdulikan Sunnah, atsar dan qaedah-qaedah yang sudah ditetapkan . Inilah tafsir yang dilarang. Jelasnya menafsirkan Al-Qur’an dengan hawa nafsu.

Demikianlah tangapan manusia tentang Al-Qur’an ini berbahsa Arab sudah tidak dapat dibantah lagi. Bagaimana sebenarnya..sehingga judul tulisan ini sampai berani mengatakan Al-Qur’an bukan bahasa Arab ?

Peristilahan.

Istilah Lisaanan ‘Arabiyyan dan Qur’anan Arabiyyan tentu sangat berbeda dengan perkataan Lisanan Araban atau Qur’aanan “Araban.

Perbedaannya adalah ada doble huruf ya yang ditambahkan kepada kata-kata Arabun menjadi Arabiyyun yang dalam Nahu-Syarraf istilahnya disebut sebagai Ya nishbah atau Ya pembangsaan.

Kaedahnya dalam bahasa sebagai berikut : Apabila pada sebuah kata benda (isim) ada terdapat huruf ya yang bertsjid maka memberi makna pada kata itu adalah sebangsa atau serumpun dan sebagainya.

Contoh : Muhammad menjadi Muhammdiyyaah artinya Pengikut Muhammad atau Serumpun Muhammad. Makah menjadi Makiyyun artinya Penduduk Mekah Arabun menjadi Arabiyyun artinya Bangsa Arab.

Jikalau ada dua perkataan dimana berlaku hukum na’at man’ut atau kata sifat maka kata Lisanan menjadi yang disifati sedangkan Arabiyyan menjadi yang memberi sifat kepada Lisanan. Sehingga Lisanan Arabiyyan menjadi berarti Bahasa yang serumpun/sebangsa dengan bahasa Arab.

Begitu juga dengan Qur’aanan arabiyyan menjadi berarti bahasa Al-Qu’an yang serumpun dengan bahasa Arab.

Ini adalah bila ditinjau dari sudut bentuk kata. Akan tetapi harus didukung oleh sejarah.

Asal-Usul Bangsa Arab

Para ulama ahli tarich telah sepakat bahwa bangsa Arab itu terdiri atas tiga bagian yakni : 1. Bangsa Arab Al-‘Arabah 2. Bangsa Arab Al-‘Aribah dan yang ke 3 Bangsa Arab Al-Musta’rabah.

Uraian singkat adalah sebagai berikut :

1. Bangsa Arab Al-‘Arabah disebut juga Arab Al-Baa’idah. Mereka itu Bangsa Arab yang pertama sekali atau yang asli. Mereka adalah keturunan dari Iram bin Sam bin Nuh. Mereka terdiri dari 9 bangsa yaitu 1. “Aad 2 Tsamud, 3 Amim 4 Amiel 5 Thasam 6 Jadies 7 Imlieq 8 Jurhum ulaa 9 Wabaar.

Bangsa Arab Al-Baidah ini adalah bangsa Arab yang tertua, yaitu sisa dari Bangsa Ad dan Tsamud yang tinggal di Babylon, oleh karena kufur mereka telah dihancurkan negerinya oleh Allah. Kemudian mereka pindah ke Jazirah Arab setelah terdesak dari keturunan Haam.

2. Bangsa Arab Al-Aribah disebut pula Bangsa Arab Al-Muta’arribah. Mereka itu adalah bangsa Arab yang kedua dari keturunan Jurhum bin Qathan putra Aibir atau Aibar. Tempat tinggal mereka adalah Yaman sehingga mereka disebut juga dengan Arab Al-Yamaniyah. Menurut seorang ahli tarich, Aibar atau Aibir itu nama dari Nabi Hud. Mereka berdiam ditanah Hijaz.

Pada masa itu semua qabilah di tanah Yaman seluruhnya ada dibawah perintah kerajaan Thababi’ah. Sedangkan Thababi’ah itu adalah anak laki-laki dari Saba juga. Mereka bangsa Arab Al-Aaribah ini sangat kuat sehingga menaklukkan semua qabilah-qabilah lain termasuk bangsa Arab Al-Ba’idah yang telah tinggal di daerah hijaz. Pada tahun 120 sebelum Masehi kerajaan Yaman dilanda banjir besar sehingga kerajaan Yaman pecah menjadi tiga kerajaan.

3. Bangsa Arab Al-Musta’rabah ialah bangsa Arab yang diwarganegarakan menjadi bangsa Arab dari kedatangan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ke kota Mekah bersama dengan pasukannya. Mereka inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan Bangsa Arab Ismailiyyah, yang menurunkan Adnan dan dari suku Adnaniyyun ini kemudian menurunkan Nabi Muhammad SAW.

Adapun asal mula mereka itu ialah dari keturunan Nabi Ismail putra Nabi Ibrahim, dan sebagaimana yang telah diuraikan oleh para ahli sejarah bahwa Nabi Ibrahim itu bukan orang Arab tapi dari negeri Kan’an pindah ke negeri Mekah pusat tanah Hijaz.

Semua bangsa Arab baik yang keturunan dari Arab Al-Ba’idah atau Arab asli, maupun keturunan Arab Al-Muta’arribah serta bangsa Arab Ismailiyyah semuanya berbahasa Arab setelah terjadi asimilasi antara bahasa Arabiyyan yang dibawah oleh Nabi Ismail dengan bahasa Arab yang masih dipakai oleh orang-orang Arab Yamaniyyah.

Dengan bahasa Arab seperti itulah mereka berkomunikasi satu terhadap lainnya sampai pada suatu saat, Allah membangkitkan Nabi Muahmmad SAW dengan membawa Al-Qur’an.

Sejarah Bangsa Arab ketika mendengar Al-Qur’an pertama kali.

Dikisahkan oleh ahli sejarah, bahwa ketika Nabi Muhammad mengadakan da’wah kepada bangsanya, maka bermacam-macam rintangan datang menimpa beliau, mulai dari penghinaan, cercaan, ejekan, tipu daya dan semua rintangan lainnya, pendek kata mulai dari rintangan kasar sampai rintangan yang halus yang dilakukan oleh kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad.

Pada suatu waktu, kaum Quraisy mengadakan pertemuan dengan prinsip mereka bahwa “Semut mati karena manisan”, yaitu mereka akan menunjuk seorang wakil guna menemui Nabi Muhammad pada waktu itu. Mereka sadar benar bahwa Muhammad bin Abdillah adalah seorang yang tidak mudah dikalahkan dalam berdebat, maka mereka akan memilih seorang yang ahli dalam urusan ini.

Rapat itu dilangsungkan di gedung Kebangsaan (Daarun Nadwah) dan dihadiri oleh pemuka-pemuka kaum Quraisy. Tujuan rapat sudah jelas akan memilih seorang yang mempunyai kedudukan sama dengan kedudukan Muahmmad bin Abdillah, seorang yang pandai, masih muda dan kuat seperti Nabi Muhammad, dengan maksud agar bisa memperdayakan Nabi Muammad SAW.

Setelah berdebat panjang lebar, maka dengan suara bulat ditetapkanlah orang yang akan mewakili bangsa Quraisy adalah Utbah bin Rabi’ah. Karena Utbah bin Rabi’ah sesuai jika berhadapan muka dengan Muhammad bin Abdillah untuk berunding dengan dia. Keputusan itu diterima dengan riang gembira disertai kesombongan Utbah bin Rabi’ah karena ia meresa bahwa dirinyalah yang mempunyai sifat-sifat yang dikehendaki oleh mereka.

Pertemuan pertama antara Utbah dengan Nabi.

Pada waktu yang telah ditentukan oleh Utbah sendiri, maka dia datang kerumah Abu Thalib. Sesudah ia bertemu dengan Abu Thalib (Pamanda Nabi) Utbah lalu meminta supaya memanggil Muhammad. Abu Thalib mengabulkan permintaan itu dan segera Abu Thalib memerintahkan seseorang memanggil kemanakannya itu. Setelah menerima panggilan pamannya itu maka Nabi pun bergegas datang ke rumah pamannya. Nabi sama sekali tidak menyangka bawa dirinya sedang ditunggu oleh Utbah bin Rabi’ah. Oleh karena itu maka Nabi sedikit kaget ketika melihat Utbah ada di rumah pamannya itu, lalu Nabi duduk berhadapan dengan Utbah.

Utbah mulai berbicara lebih dahulu :

“Hai anak laki-laki saudaraku ! Engkau sesungguhnya dari golongan kami, dan engkau sebenarnya telah mengetahui keadan kita, bahwa kita bangsa Quraisy ini adalah sebaik-baik dan semulia-mulia bangsa Arab didalam pergaulan dan masyarakat, sekarang engkau datang kepada bangsamu dengan membawa suatu perkara besar ! Engkau datang kepada bangsamu dengan membawa suatu perobahan yang amat besar ! Tidakkah engkau merasa bahwa kedatanganmu itu memecah-belah bangsamu yang telah berabad-abad bersatu, dan engkau telah mencerai-beraikan persaudaraan bangsamu yang telah lama bersepakat, dan engkau telah membodoh-bodohkan ‘ulama-‘ulama-mu, mencaci maki apa-apa yang telah lama dipuja-puja orang tuamu, engkau merendahkan apa-apa yang telah lama dimuliakan oleh nenek moyangmu dan bangsamu, engkau cela agama yang telah beratus tahun dipeluk oleh bangsamu dan para leluhurmu, engkau sesat-sesatkan pujangga-pujangamu yang telah lewat. Kini bangsamu telah berpecah-belah dan ber-golongan-golongan, disebabkan oleh perbuatanmu.

Kejadian demikian itu, kini telah tersiar di negara-negara lain. Oleh karena itu kami sangat kuatir, manakala nanti bangsamu kedatangan musuh dari luar, dapatkah kita melawan dan mempertahankan kedudukan kita? Sudah tentu tidak akan dapat, bukan? Sebab perpecahan diantara bangsamu itu kini telah menjadi-jadi, tentu akan menyebabkan kelemahan pada bangsamu sendiri.

Oleh karena itu kedatanganku hari ini kepadamu atas nama bangsamu seluruhnya, dan hendak mengajukan kepadamu hal-hal yang amat sangat penting. Tetapi aku meminta kepadamu, bahwa sesudah aku mengatakan kepadamu, agar supaya kamu pikirkan dengan tenang dan kamu perhatikan dengan benar., janganlah kamu tolak dengan serta merta ! Agar supaya engkau dapat menerima salah satu dari hal-hal yang akan aku katakan. Adapun tujuan kami tiada lain melainkan supaya bangsamu yang mulia ini dapat bersatu kembali, seia sekata dan kembali berdamai seperti yang sudah-sudah.

Selama Utbah berbicara Nabi hanya berdiam diri saja sambil mendengarkan dengan tenang. Maka sesudah itu Nabi menjawab : “Katakanlah olehmu kepadaku, segala sesuatu yang hendak engkau katakan, hai Abul Walid ! Aku akan mendengarnya”.

Utbah bin Rabi’ah lalu berkata : “Saya akan bertanya lebih dahulu kepadamu Muhammad, sebelum saya mengatakan hal-hal penting tersebut kepadamu.

Kata Utbah : “Apakah engkau lebih baik dari pada ayahmu Abdullah dan adakah engkau lebih baik pula dari kakekmu yang terhormat Abdul Muthalib ?”

Nabi SAW dikala itu diam saja, tidak menjawab sepatah katapun. Utbah lalu melanjutkan pembicaraannya :

“Oh anak laki-laki saudaraku ! Kalau engkau menganggap bahwa engkau lebih baik dari pada orang-orang tuamu dan nenek moyangmu dahulu, maka katakanlah hal itu kepadaku. Aku hendak mendengarnya. Dan jika engkau menganggap bahwa orang-orang tuamu dan nenek moyangmu itu lebih baik dari pada kamu, pada hal mereka itu dengan sungguh-sungguh menyembah dan memuliakan Tuhan-Tuhan yang engkau hinakan sekarang ini, maka cobalah hal itu engkau katakan kepadaku Muhammad ! Nabi SAW masih tetap diam !

Lalu Utbah melanjutkan lagi pembicaraannya :

”Sekarang bagaimanakah Muhammad, apa yang menjadi kehendakmu dengan mengadakan agama baru itu? Saya mau tahu, Muhammad !

Jikalau dengan mengadakan agama baru itu, engkau mempunyai hajat ingin memilki harta benda, kami kaum bangsawan Quraisy sanggup mengumpulkan harta benda buat kamu, sehingga nanti kamu menjadi seorang yang kaya diantara kami;

jikalau kamu menghendaki dengan agama barumu itu kemuliaan dan ketinggian derajat, maka kami sanggup menetapkan engkau menjadi seorang yang paling mulai dan paling tinggi derajatnya diantara kami, dan kamilah yang akan memuliakanmu;

jikalau kamu ingin menjadi raja, maka kami sanggup mengangkat kamu menjadi raja kami, yang memegang kekuasaan diantara kami, yang memerintah kami, dan kami semuanya tidak akan berani memutuskan sesuatu perkara melainkan dengan izinmu atau dari keputusanmu;

jikalau engkau menghendaki wanita-wanita yang paling cantik, sedangkan kamu tidak mempunyai kekuatan untuk mencukupi kjeperluan mereka maka kami sanggup menyediakan wanita bangsa Quraisy yang paling cantik diantara wanita Quraisy lainnya, dan pilihlah sepuluh orang atau berapa saja yang kamu mau dan kamilah yang akan mencukupkan keperluan mereka masing-masing, dan engkau tidak usah memikirkan keperluan mereka itu;

jikalau kamu menderita penyakit, maka kami sanggup mencari obatnya dengan harta benda kami sampai kamu menjadi sehat kembali meskipun harta benda kami menjadi habis asalkan engkau sehat kembali tidak apalah bagi kami;

dan jikalau kamu menginginkan hal-hal lain selain hal-hal itu, maka coba katakanlah kepadaku, asal engkau mau menghentikan perbuatan-perbuatanmu seperti yang sudah-sudah. ! Coba kamu katakan kepadaku, pilihlah salah satu dari hal-hal yang telah aku katakana ini, mana yang kamu inginkan katakanlah kepadaku”

Selama Utbah berbicara itu, Nabi SAW diam sambil mendengarkan ! Kemudian beliau berkata : “Sudahkah selesai hal-hal yang engkau katakan kepadaku ?”

Utbah menjawab : “Yah saya selesaikan sekian dulu”

Nabi berkata : “Oh begitu, ! baiklah sekarang saya minta kamu mendengarkan perkataanku, sebagai jawaban kepadamu. Maukah kamu mendengarkannya?”

Utbah menjawab :” Baiklah, katakanlah kepadaku sekarang juga”

Nabi SAW lalau membaca ayat-ayat dari Al-Qur’an surat Fushilat ayat 1 sampai dengan ayat 14 yang baru diturunkan Allah beberapa hari yang lalu :

BISMILLAAHIR RAHMAAN NIRRRAHIIM

HAA MIIM

TANZIILUN MINAR RAHMAANIR RAHIIM

KITAABUN FUSHSHILAT AAYAATUHU QUR’AANAN ARABIYYAN LIQAUMINY YA’LAMUUN

Dan seterusnya sampai dengan ayat 14 (lihat saja di Mushaf Al-Qur’an)

Baru sampai sekian Nabi membaca ayat-ayat Al-Qur’an maka dengan segera Utbah menegur dan berkata : “Cukuplah Muhammad, cukup sekian dulu Muhammad, cukuplah sekian saja ! Apakah kamu dapat menjawab dan berkata dengan yang lain selain itu”

Nabi SAW menjawab :”Tidak !”

Utbah lalu diam tidak dapat berkata lebih lanjut, semua yang hendak dikatakan telah hilang musnah dengan sendirinya, segala rencana yang yhendak dikemukakan untuk memperdayakan Nabi lenyap dengan tidak disangka-sangka, bahkan hatinya menjadi tertarik dengan mendengarkan apa yang dibacakan oleh Nabi.

Oleh sebab itu, dengan segera ia lalu pulang ke rumahnya dengan mengandung satu perasaan yang sebelumnya tidak disangka-sangka akan memilikinya, sehingga ia tidak tahu, apa lagi yang akan dikatakan kepada Muhammad. Memang bukan main kata-kata yang diucapkan Muhammad itu. Selama hidupku aku belum pernah mendengar kata-kata yang semacam itu. Memang sungguh sedaplah rasanya angkaian kata-kata yang diucapkan oleh Muhammad itu.

Laporan Uthbah.

Setiba Utbah dirumahnya dengan mengandung perasaan yang mengganggu tadi, maka dengan hati yang sangat pedih, beberapa hari lamanya ia tinggal saja di rumahnya, tidak berani keluar dari rumah menunjukkkan mukanya kepada mereka yang mengutusnya.

Oleh sebab itu mereka (para pemuka musyriqin Quraisy) itu lalu datang ke rumahnya, untuk menanyakan kepadanya tentang hasil yang diperolehnya sebagai seorang utusan yang terhormat. Pada waktu itu Utbah sangat berdebar-debar hatinya, sangat pucat raut mukanya. Akibat rasa takut kepada mereka. Sekalipun begitu namun terpaksa ia melaporkan apa yang sudah dikerjakannya sebagai seorang utusan yang amat dipercaya, dia menguraikan tentang hal ihwal ketika bertemu dengan Nabi SAW, dan menerangkan jalannya percakapan antara dia dan Nabi SAW, serta ucapan Nabi sebagai jawaban atas pembicaraannya.

Utbah terpaksa melaporkan kepada mereka, karena dikala itu seorang diantara mereka ada yang mendesaknya dengan cara mengejeknya; katanya kepada mereka : ”Sesungguhnya Utbah telah datang dari pertemuannya dengan Muhammad, tetapi kedatangannya kepadamu sekarang ini dengan roman muka yang lain dari roman muka ketika ia pergi kepada Muhammad”

Kemudian mereka berkata kepada Utbah :”Apakah yang ada di belakang kamu, wahai Abal-Walid?”

Disinilah Utbah lalu terpaksa melaporkan kepada mereka.

Kata Utbah :

“Demi Allah, aku sudah menyampaikan kepada Muhammad semua yang diserahkan kepadaku. Sedikitpun aku tidak tinggalkan apa yang kamu katakan kepadaku, untuk kukemukakan kepada Muhammad, bahkan aku menambah beberapa keterangan yang sangat jitu dan penting pula”.

Mereka berkata :”Ya, habis bagaimana ? Apakah Muhammad memberi jawaban kepadamu ?”

Utbah menjawab :”Ya, dia memberi jawaban kepadaku, tetapi demi Allah, aku tidak mengerti yang diucapkan oleh Muhammad. Sungguh, sedikitpun aku tidak mengerti, melainkan aku mendengar dari padanya, bahwa dia mengancam kamu semua dengan petir, seperti petir yang dipergunakan untuk membinasakan kaum-kaum Ad dan Tsamud”.

Salah seorang dari mereka berkata :”Celakalah engkau hai Utbah ! Mengapa engkau sampai tidak mengerti perkataanya ? Sedang ia berbicara dengan bahasa Arab, dan Engkau berbicara kepadanya dengan bahasa Arab juga bukan?”

Utbah menjawab :”Demi Allah ! Sungguh aku sama sekali tidak dapat mengerti perkataannya, melainkan ia menyebut-nyebutkan kata :”Shaa’iqah” (petir)”

Mereka bertanya :”Mengapa begitu hai Utbah ?”

Utbah menjawab :”Demi Allah ! Selama hidupku belum pernah mendengar perkataan seperti perkataan Muhammad yang diucapkan kepadaku. Karena perkataannya itu akan kuanggap syi’ir, bukan syi’ir karena dia bukan ahli syi’ir; dan akan kuanggap perkataan tukang ramal, ia bukan seorang tukang ramal; dan akan kuanggap perkataan orang gila, ia bukan orang gila. Sungguh perkataannya yang telah kudengar itu akan ada satu urusan penting. Sebab itu aku pada waktu itu tidaklah dapat menjawab perkataannya sepatahpun”.

(Sumber : Kelengkapan tarich Nabi Muhammad saw penerbit Bulan Bintang disusun oleh KH Munawar Chalil halaman 322 – 330)

Dari keterangan sejarah tersebut diatas, tentunya tidak dapat dibantah bahwa Al-Qur’an bukan bahasa Arab tetapi serumpun dengan bahasa Arab, sama-sama berasal dari bahasa yang diajarkan Allah kepada Nabi Adam, kemudian menurun kepada Nabi Nuh, sampai akhirnya bangsa Ad dan Tsamud karena menyimpang dengan permainan Dzulumat menurut Sunnah Syayathin dihancurkan oleh Allah negerinya, dan sisa-sisa dari mereka itu masih berbahasa yang mirip dengan bahasa Al-Qur’an tetapi kesadarannya sudah bukan berkesadaran Nur menurut Sunnah Rasul.

Ada beberapa hal yang memang bahasa Arab mirip dengan bahasa Al-Qur’an seperti sama-sama menggunakan huruf hijaiyyah dari alif sampai dengan ya, sama-sama bila ditulis dari kanan ke kiri kecuali angka-angka, namun perbedaan yang paling prinsipil adalah menganai makna dari kedua bahasa itu.

Bahasa Arab sampai hari ini, terus beradaptasi dengan bahasa-bahasa lain di dunia ini, seperti kita ketahui banyak istilah-istilah teknologi dari barat masuk menjadi bahasa Arab, tetapi bahasa Al-Qur’an semenjak turun sampai dengan kiamat nanti tidak pernah bertambah dengan kata-kata apapun, karena makna dari ayat-ayat Al-Qur’an sudah lengkap sampai dengan akhir zaman.

Bahasa Arab, maknanya tergantung dari kamus atau orang yang berbicara, sedangkan bahasa Al-Qur’an maknanya harus dari Allah menurut Sunnah Rasul-Nya, sehingga membaca Al-Qur’an dengan mengambil pengertian tidak dari sumbernya sama dengan mencampur-adukkan antara yang hak dengan yang bathil.

Seperti kita ketahui sekarang ini ayat Al-Qur’an dari Allah, tapi maknanya dari kamus bahasa Arab, ini sudah menyalahi methodology Nur menurut Sunnah Rasul.

Tata bahasa Arab yang disusun untuk mengukur salah benarnya satu perkataan, ternyata ada yang bertentangan dengan Al-Qur’an misalnya seperti setiap huruf jar maka kata setelah itu harus majrur, misalnya min ba’di, tetapi dalam Al-Qur’an ada kalimat min ba’du, apakah mau menyalahkan Al-Qur’an dengan tata bahasa yang disusun oleh manusia, disini kawan harus mengerti pelajaran tentang Al-Qur’an satu subyek study, sehingga bukan Nahu syarraf sebagai subyek tapi Al-Qur’an itulah sebagai subyek, maka dengan demikian perlu untuk disusun kembali pelajaran Tata Bahasa Al-Qur’an dengan referensi Tata bahasa Arab.

Kita memahami bahwa ada orang yang tidak bisa menerima jikalau kita katakan bahwa bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Nur.

Hal ini berhubungan dengan perkataan dalam Al-Qur’an yang berbunyi : “Bilisaani qaumihi” yang berarti dengan bahasa qaumnya. Kaumnya Nabi Muhammad menurut manusia adalah kaum Quraisy, pada hal kaumnya Nabi Muhamad ialah para Nabi semuanya, mulai dari Nabi Adam sampai dengan Nabi Isa ibnu Maryam itulah kaumnya Nabi Muhammad, mereka semua berbahasa dengan bahasa yang sama dengan bahasa Al-Qur’an. Oleh karena semua Nabi-Nabi mempunyai kitab dengan namanya sendiri-sendiri, namun mempunyai persamaan dalam makna dan sudut memandang Nur menurut Sunnah Rasul maka bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Nur, bahasa inilah yang akan dipakai di Jannah nanti.

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad menyatakan :

UHIBBUL ARABA ‘ALAA TSALAATSIN, LIANNII ARABIYYUN, WAL-QURAAN ARABIYYUN, WALISAANAL JANNATI ARABIYYUN

Aku mencintai Arab atas tiga alasan, oleh karena saya pribadi serumpun atau sekuarga dengan Arab, bahasa Al-Qur’an adalah bahasa yang serumpun dengan bahasa Arab, dan bahasa yang dipergunakan di jannah nanti juga bahasa yang serumpun dengan bahasa Arab.

Oleh karena itu maka study ini harus mengkaji lagi Al-Qur’an sebagai satu bahasa, yang menyangkut persoalan tata bahasa Al-Qur’an, Sastra Al-Qur’an, sehingga kawan akan dapat memahami Al-Qur’an bukan hanya dari sisi bahasa tapi juga dari sisi wawasan Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul-Nya.

Demikianlah uraian Al-Qur’an bukan bahasa Arab, disajikan sebagai bahan pemikiran umat, agar tidak tertipu dengan bahasa Arab sehari-hari, karena nilai makna dan sastra dari bahasa Al-Qur’an begitu tinggi sehingga banyak ahli bahasa Arab pun mengaguminya.

Semoga bermanfaat, author @qms_r

Tentang unnanoche

I was born yesterday..and I feel as gulible today
Pos ini dipublikasikan di 1, budaya, gaya hidup, kesehatan, motivasi, parenting, politik, religi dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s